<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697</id><updated>2011-04-21T11:31:03.996-07:00</updated><title type='text'>ELMOSLEM</title><subtitle type='html'>&amp;quot;Taqobbalalloohu Minnaa Wa Minkum&amp;quot; Selamat Idul Fitri 1430 H Mohon Maaf Lahir &amp;amp; Batin</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-5671160695680901019</id><published>2009-05-24T04:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T04:41:53.066-07:00</updated><title type='text'>Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar”. (Fusshilat: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dr. Muhammad Abdullah As-Syarqawi mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, di dalam Al-Qur’an telah mendorong akal manusia agar senantiasa memperhatikan, berpikir, serta merenung agar akal dan kalbunya merasa puas terhadap aspek ketuhanan, risalah dan kebangkitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sungguh anugerah terbesar Allah kepada umat manusia adalah akal. Jika potensi ini tidak difungsikan atau difungsikan tidak maksimal, maka akan melahirkan sikap jumud yang membawa kepada taklid dan fanatisme buta. Justru Islam datang membawa prinsip keseimbangan (washathiyyah) setelah ideologi sebelumnya sangat kental dengan jumud dan fanatisme. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil, pilihan, seimbang)”. (Al-Baqarah: 143)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tindakan mengabaikan anugerah akal bisa menjerumuskan seseorang ke dalam siksa Allah seperti yang disaksikan sendiri oleh para penghuni neraka ketika mereka menyesali sikapnya dengan mengatakan, “Sekiranya kami mau mendengarkan atau menggunakan akal pikiran, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk keluar dari jebakan taklid buta, umat Islam dituntut untuk berani melakukan “ijtihad” sebagai salah satu pilar tegaknya syariat dalam kehidupan manusia. Ketertinggalan umat Islam dari hakikat agama dan persoalan dunia, tiada lain karena ketertutupan akal mereka yang hanya cukup dengan apa yang mereka terima secara turun temurun (taklid buta). “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 170)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di dalam ayat lain, Allah mencela sikap taklid buta dengan menjelaskan keterlibatan syaitan yang membelenggu manusia untuk tetap bersikap jumud dan mengedepankan fanatisme. ““Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa apai yang menyala-nyala”. (Luqman: 21)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengingatkan bahwa jati diri umat Islam sekarang ini telah hilang; ciri-ciri peradabannya telah cerai berai dan terlupakan. Saat ini  umat Islam hidup di bawah kekuasaan peradaban asing dengan segala aspek negatif dan penyimpangannya. Bahkan, justru kita menemukan bahwa ketundukan umat Islam terhadap kekuasaan peradaban asing adalah lebih besar daripada ketundukan orang-orang Barat sendiri selaku pemilik sekaligus pewaris peradaban tersebut. Ini berarti, bangunan masyarakat Islam saat ini telah miring, pilar-pilarnya telah condong ke bawah dan tidak mampu lagi berdiri tegak. Dalam kondisi labil seperti ini, umat Islam dituntut untuk melepaskan belenggu taklid buta dan sikap ikut-ikutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dengan ijtihad, Allah hendak memberikan karunia kepada hamba-Nya, agar aktifitas ibadah yang mereka lakukan didasarkan kepada pemahaman (ijtihad), sebagaimana Allah mewajibkan jihad agar para hambanya yang shalih menjadi para syuhada. Apabila keutamaan mujahid adalah karena darah yang tercurah di medan perang, maka keutamaan para mujtahid adalah karena mereka mengerahkan segenap kesungguhan di dalam menggali hukum dalam rangka meninggikan kalimatullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di sini, Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad (dalam pengertian secara bahasa yakni bersungguh-sungguh) dan menguji ketaatan mereka di dalam lingkup persoalan ijtihad, sebagaimana ketaatan mereka diuji dalam persoalan-persoalan lainnya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akam menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (Muhammad: 31)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dalam pandangan Dr. Wahbah Zuhaili, ijtihadlah yang akan menghidupkan kembali syariat di atas muka bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktifitas ijtihad tidak hidup, tidak memiliki daya kerja dan daya gerak. Sebab berbagai faktor pertumbuhan dan perkembangan kehidupan serta pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia meniscayakan kebutuhan akan ijtihad, terutama di masa kita sekarang ini, masa yang serba instan, komplek, serta penuh dengan tantangan peristiwa dan permasalahan baru. Sehingga tanpa ijtihad dan melepaskan belenggu taklid buta, syariat Islam akan kehilangan relevansinya di setiap zaman dan tempat. Ia akan membuat manusia merasa sempit dengan kehadirannya dan akan menimbulkan kekeliruan di dalam memandang agamanya. Padahal ijtihad merupakan salah satu karakteristik syariat Islam yang tidak akan tertutup pintunya sampai hari kiamat. Di sinilah bukti rahmat Islam yang akan membebaskan umatnya dari kesempitan. Allah menegaskan, “Dia tidak menjadikan di dalam agama ini suatu kesempitan bagi kalian”.(Al-Hajj: 78)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mencermati realitas umat Islam dewasa ini yang semakin terpuruk dan tertinggal, maka karya nyata, kreativitas, ijtihad yang segar sangat ditunggu-tunggu untuk mengembalikan umat kepada kejayaannya yang gilang-gemilang dengan tetap komitmen dengan ajaran Islam yang komprehensif. Wallahu A’lam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;By. Dakwatuna.Com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-5671160695680901019?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/5671160695680901019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=5671160695680901019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5671160695680901019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5671160695680901019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2009/05/melepas-belenggu-taklid-dan-fanatisme.html' title='Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-5501161359336567700</id><published>2009-05-12T10:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T10:45:43.553-07:00</updated><title type='text'>Jangan Taqlid Buta</title><content type='html'>&lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan  janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta  pertanggungan jawabnya. (QS 17: 36)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ayat di atas mengingatkan kita  agar tidak beramal kecuali telah menguasai ilmunya. Disamping itu juga mendorong  kita untuk memanfaatkan instrument pendengaran, penglihatan dan hati untuk  menuntut ilmu. Kalau kita tidak memanfaatkannya maka kita akan celaka nanti  ketika dimintai pertanggung-jawaban atas potensi yang diberikan Allah kepada  kita itu. Apalagi Allah juga telah memberi peringatan kepada kita semua, bahwa  orang yang tidak memanfaatkan pendengaran, penglihatan dan hatinya akan menjadi  isi neraka Jahannam. Mereka dinilai Allah seperti binatang ternak, bahkan lebih  sesat lagi  (QS 7: 179).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Allah memberitakan bahwa di  antara ahli kitab itu banyak yang ummi tidak mengetahui isi Taurat kecuali  dongeng bohong belaka (QS 2: 78). Mereka hanya mengikuti begitu saja apa yang  diajarkan dan dikisahkan oleh para pendeta mereka meskipun tanpa dasar yang  benar dari kitab mereka. Kebanyakan mereka tidak mempelajari kitabnya sendiri,  sehingga setelah berlalu masa yang panjang dari masa kenabian tidak mendapatkan  peringatan dari para nabi, hati mereka menjadi keras, susah diperingatkan dengan  kebenaran Al Qur'an (QS 57: 16).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meskipun menerima kitab tetapi  mereka tidak memahami dan tidak beramal dengan kitabnya. Allah memberikan  julukan kepada mereka sebagai keledai yang memikul kitab-kitab tebal (QS 62: 5).  Karena tidak  mengerti  kitab, maka ketika pendeta mereka menyampaikan  kebohongan mereka tidak mampu mengoreksinya. Bahkan ketika pendeta menghibur  bahwa mereka hanya akan tinggal di neraka beberapa hari saja, orang awam di  antara para ahli kitab itu mengiyakan saja. Sampai-sampai karena terlalu  bodohnya, mereka terjebak ke dalam kultus individu, menuhankan Uzair dan Isa Al  Masih putra Maryam (QS 9: 30). Lebih dari itu, apa saja yang dihalalkan oleh  para pendeta, mereka menghalalkannya dan apa yang diharamkan oleh pendeta,  mereka mengharamkannya juga, meskipun tidak sesuai dengan kitab suci mereka.  Sehingga Allah telah memberikan penilaian bahwa mereka telah menuhankan orang  alim dan pendeta mereka (QS 9: 31).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang telah diamalkan oleh  para ahli kitab itu ternyata juga diamalkan oleh kebanyakan orang Islam saat  ini. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah memperingatkan bahwa  umat Islam akan mengikuti orang Yahudi dan Nasrani sejengkal demi sejengkal dan  sehasta demi sehasta. Bahkan ketika mereka masuk ke dalam lobang biawakpun umat  Islam akan mengikutinya juga. Sebagian besar umat Islam saat ini tidak mengerti  tentang Islam, tidak mengerti tentang Qur'an dan Sunnah. Kebanyakan mereka  beramal karena taqlid buta. Mengikuti ajaran para kyai, nenek moyang, dan  pemimpin mereka. Mereka banyak mengamalkan tradisi yang telah diamalkan secara  turun temurun oleh nenek moyang mereka, meskipun tidak ada sumbernya dari Al  Qur'an dan As Sunnah sama sekali. Ketika amalan mereka dicocokkan dengan Al  Qur'an dan As Sunnah mereka terbelalak karena perbedaan yang telak. Hanya  sebagian kecil di antara mereka yang ruju' kepada kebenaran, namun sebagian  besar menolaknya. Bahkan ada yang tidak hanya menolak kebenaran, namun saling  bersekongkol memusuhi orang yang hendak bertaubat, kembali kepada  kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sayang sekali meskipun sebagian  besar umat Islam belum faham akan ajaran agamanya yang benar, namun ketika  mereka diajak untuk mempelajari islam lewat pengajian-pengajian mereka juga  tetap malas. Sebagian merasa tidak penting mempelajari agamanya. Mereka lebih  mencintai kenikmatan hidup dunia daripada bersusah-susah mempelajari agama.  Sebagian merasa bahwa pengetahuan mereka tentang Islam sudah mencukupi. Padahal  Allah memberitakan bahwa ilmu-Nya (kalimat-Nya)  tidak akan habis meskipun  ditulis dengan tinta sebanyak 8 laut. Sebagian lain merasa tidak perlu  mempelajari sendiri. Mereka menyerahkan kepada para ulama untuk mempelajari  Islam dan merasa cukup bertaqlid kepada mereka. Para kyai mereka mengatakan  bahwa taqlid itu wajib. Alasannya orang awam itu bodoh, sehingga mereka wajib  taqlid kepada orang pintar (ulama). Kata-kata indah yang menarik hati seperti  ini telah banyak menyesatkan orang. Mestinya sebagai ulama mereka berusaha  semaksimalnya untuk membuat umatnya pandai, memahami Al Qur'an dan As Sunnah  sehingga mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak malah  membiarkan mereka tetap bodoh dan terus berbuat taqlid buta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   Saudaraku, hanya manusia di  antara seluruh makhluk-Nya di alam semesta ini yang dianugerahi akal. Akal ini  memiliki kemampuan yang amat dahsyat, sehingga manusia yang tidak punya sayap  sekalipun dapat terbang lebih jauh dan lebih tinggi dari burung. Meskipun mereka  tidak punya insang, tetapi dapat menyelam lebih dalam dari ikan. Dengan akal itu  pula manusia mampu menggali kekayaan alam yang disimpan Allah jauh di dalam  perut bumi. Dengan kemampuan akal itu pula manusia dapat menghapal ribuan ayat  Al Qur'an dan Hadist yang dapat mereka jadikan pedoman demi keselamatan dan  kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Jangan sia-siakan akal, mari kita  manfaatkan semaksimalnya untuk memahami ayat-ayat Allah, mengimani dan  mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar kita tidak termasuk penghuni  jahannam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0px 48px; text-align: justify; font-family: arial;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-5501161359336567700?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/5501161359336567700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=5501161359336567700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5501161359336567700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5501161359336567700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2009/05/jangan-taqlid-buta.html' title='Jangan Taqlid Buta'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-5010139372932373900</id><published>2008-07-22T08:23:00.001-07:00</published><updated>2008-07-22T08:32:24.965-07:00</updated><title type='text'>Fiqh Bag. 3</title><content type='html'>&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Tatabbu’urrukhash Dalam Talfiq&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada sebagian orang awam yang memilih tatabbu’urrukhas dan pendapat-pendapat yang aneh dalam madzhab-madzhab atau ulama dengan semangat talahhiy (main-main), tasyahhiy (senang-senang), atau mencari yang paling gampang. Ini boleh atau tidak?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mayoritas ulama melarang talfiq yang demikian karena sudah berubah menjadi mengikuti selera. Syari’at Islam melarang kita mengikuti nafsu. Ibnu Abdul Barr menyebutkan ijma’ larangan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagian ulama membolehkannya dalam beberapa madzhab, karena tidak ada larangan dalam syari’at yang melarangnya. Al-Kamal bin Al Hammam berkata dalam kitab At-Tahrir, “Sesungguhnya seorang muqallid dipersilakan mengikuti yang dia kehendaki, meskipun seorang awam mengambil setiap masalah dengan ucapan mujtahid yang lebih ringan baginya, saya tidak tahu apa yang melarangnya secara naqli dan aqli. Keberadaan manusia yang mencari apa yang lebih ringan baginya dari pendapat para mujtahid yang ahli berijtihad, saya tidak mengetahui celaannya dalam syari’at Islam. Dan adalah Rasulullah saw. menyukai apa saja yang meringankan umatnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Benar, bahwa tidak ada perbedaan hukum syar’i antara rukhshah dan azimah, selama masih hukum syar’i yang memiliki dalil sahih. Jika diperbolehkan talfiq dalam masalah pokok, maka tidak ada sisi larangan untuk memilih yang mudah-mudah selama rukhshah itu memiliki dalil syar’i. Tidak bisa dikatakan bahwa hukumnya makruh jika tidak ada dharurat atau udzur, dan diperbolehkan tanpa maakruh jika ada kondisi dharurat atau udzur. Rasulullah saw. “tidak pernah diberi pilihan dua hal, kecuali memilih yang paling mudah selama tidak ada dosa” (muatan hadits ini dengan redaksi yang berbeda-beda dalam shahih Bukhari Muslim, Muwaththa’ Malik, Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ad Darimiy). Prinsipnya setiap muslim diberi kebebasan memilih antara pendapat-pendapat produk ijtihadiyah yang berbeda-beda, dan insya Allah pendapat-pendapat itu tidak ada dosa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perlu diingatkan bahwa talfiq hanya berlaku dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang zhanniy (hipotesis). Sedangkan untuk masalah-masalah yang bersifat qath’iy tidak ada ruang untuk memilih rukhshah atau talfiq di sana. Sebagaimana jika talfiq atau mencari rukhshah itu menyeret kepada pelanggaran agama, maka hukumnya haram seperti jika dengan talfiq itu menyebabkan khamr, zina, dan perbuatan haram lainnya yang qath’iy menjadi mubah. Hal ini tidak mungkin menjadi halal, baik dengan talfiq maupun dengan cara lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Aktivis Islam Dan Ilmu &lt;span id="high_1" class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah runtuhnya khilafah Utsmaniyah pada awal abad 20, maka secara alami para da’i dan ulama bergerak untuk mengembalikan pemerintahan yang Islami dalam kehidupan umat Islam, maka lahirlah pergerakan-pergerakan dan partai, muncul lembaga-lembaga, dan tampil para ulama yang semua bergerak untuk tujuan itu dengan menganggapnya sebagai kewajiban agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebangkitan Islam yang dikumandangkan di masa sekarang ini, mengcover ruang yang sangat luas dalam masyarakat muslim, pemerintahan, dan partai; sangat membutuhkan upaya untuk menaikkan syi’ar (benderanya) melipatgandakan gelombangnya, disadari atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gelombang kebangkitan ini dalam banyak sisi masih berupa semangat dan perasaan yang masih sangat membutuhkan pemahaman sehingga mampu memainkan perannya dengan signifikan. Al-wa’yu (keterjagaan) yang bersih hanya bisa dibangun lewat tafaqquh (pemahaman) yang benar terhadap madzhab-madzhab yang ada di zaman sekarang ini yang sesuai dengan situasi amal Islami kontemporer. Di antara kontribusi positif dalam penyadaran pemahaman yang bersih, berikut ini beberapa masalah penting, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;1. Belajar dan Pengajaran &lt;span class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Belajar dan mengajarkan fiqh Islam adalah kebutuhan setiap orang yang melakukan amal Islami. Sesungguhnya setiap orang yang mengajak kepada Islam, orang yang memulai hidup Islami, harus dimulai dari diri sendiri dan belajar bagaimana menjadi pribadi yang hidup Islami, komitmen dengan masalah halal dan haram dalam ibadah maupun muamalah, dan bahkan setiap sisi hidupnya. Ini semua tidak akan terwujud tanpa belajar &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari itulah kami nyatakan bahwa apapun harakah (gerakan) Islamiyah yang dilakukan dengan serius mengharuskannya untuk mempelajari &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt;, kemudian mengajarkannya kepada kaum muslimin. Karena mengetahui hukum agama adalah langkah pertama untuk iltizam dengan agama itu. Iltizam seseorang secara individu terhadap hukum-hukum ini adalah juga langkah yang harus dilakukan untuk mengantarkan umat Islam seluruhnya iltizam dengan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada sebagian orang yang menyalah-pahami pandangan Sayyid Quthb –yang mengatakan bahwa “tidak menyetujui penggunaan fatwa Islam dalam setiap persoalan masyarakat modern yang menolak berhukum dengan Islam sejak awal”; “Usaha untuk mengembangkan fiqh Islam untuk menghadapai situasi dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat modern adalah upaya menabur benih di udara.”; “Usaha yang menyadarkan masyarakat ini untuk tunduk kepada hukum Allah, kemudian setelah itu fiqh akan berkembang untuk menjawab kebutuhan yang ada secara nyata, dan mencari solusinya” (cuplikan dari buku”Al-Islam wa Musykilatul-hadharah”, Sayyid Quthb)—dengan menyimpulkan bahwa Sayyid Quthb menyerukan untuk meninggalkan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang yang membaca pernyataan Sayyid Quthb ini dengan obyektif akan berkesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah upaya pembaharuan dan pengembangannya, bukan kekayaan fiqh yang telah diwariskan oleh para Ulama dan para Imam, yang di dalamnya telah diuraikan halal dan haram, peninggalan yang sangat besar yang selalu bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, berangkat dari keduanya, meskipun sering diwarnai oleh warna zaman fiqh itu ditulis. Tidak mungkin ada seorang muslim yang tidak membutuhkan kekayaan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; ini. Sayyid Quthb mengharapkan usaha pemahaman dan komitmen dengan hukum-hukum syar’i itu. Inilah yang ditulis Sayyid Quthb, “Tinggallah kewajiban untuk komitmen dengan hukum-hukum Islam itu yang harus ditegakkan di setiap pundak kaum muslimin yang berada dalam tatanan masyarkat jahiliyah, dan bergerak menghadapi jahiliyah itu untuk menegakkan sistem yang Islami.…”(Fi Zhilal Al-Qur’an juz 13 halaman 21).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika iltizam dengan hukum syar’i menjadikan kewajiban, maka mempelajari, memperhatian, dan mengajarkannya menjadi kewajiban yang aksiomatik. Ini juga menjadi konsekuensi logis dalam upaya penegakan masyarakat Islami dan mengembalikan hukum Allah di muka bumi. Tidak ada yang bertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Metode Belajar dan Pengajaran &lt;span class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak diragukan lagi bahwa terdapat perbedaan serius dalam mempelajari dan mengajarkan fiqih antara metode madzhab dengan metode salaf. Kita menyadari bahwa perbedaan itu telah mengalami penggelembungan yang jauh dari kenyataannya oleh sebagian kelompok sektarian di sana-sini, sehingga menyebabkan sikap mengkafirkan atau menganggap sesat kelompok lain yang berbeda pandangan. Kita menyadari bahwa wajah dan peran fiqih dalam kehidupan umat Islam tidak akan terwujud dengan baik kecuali dalam payung negara yang Islami. Maka, bekerja untuk menegakkan negeri yang Islami adalah problem utama umat Islam, sedang perbedaan pengajaran &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; antara madrasah para madzhab dan madrasah salaf harus dipertahankan dalam batas dialog yang dipenuhi rasa ukhuwwah untuk mencapai yang paling afdhal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedang sikap sebagian umat Islam yang membiarkan musuh-musuh Islam merekayasa untuk mencerabut hukum-hukum Islam yang ada, dan menyibukkan umat dengan perang saudara yang menghabiskan banyak energi tanpa ada hasilnya, tidak akan pernah memberikan kebaikan bagi Islam atau bagi dua madarasah fiqh itu. Sebab jika ada yang merasa meraih kemenangan semu, maka tidak akan pernah ditemukan dalam kemenangan itu dampak positif, setelah hukum dan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; Islam telah tercerabut dari realitas umat Islam dan digantikan dengan hukum produk yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita lihat bahwa kedua metode fiqh itu diajarkan Islam, dapat diterima dan bermanfaat, dengan syarat para pembawa madrasah fiqh madzhab menyadari bahwa fiqh madzhab bukanlah pengganti dari fiqh Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi menyadarinya sebagai rincian dan pencabangan dari kedua sumber itu. Sehingga yang baku hanyalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Sebagaimana para pengusung madrasah &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; salaf untuk menyadari bahwa khilaf (perbedaan) memahami Al-Kitab dan As-Sunnah adalah realitas syar’i, dan tidak mungkin mengumpulkan seluruh umat manusia dengan satu pemahaman saja. Sebagaimana tidak meungkin menjadikan kemampuan seluruh manusia dengan satu standar pemahaman. Dan bahwa orang yang tidak mampu memahami teks Al-Qur’an dan As-Sunnah sendiri, maka diperbolehkan untuk merujuk kepada para ulama dan para imam yang membantunya &lt;span id="high_2" class="searchterm2"&gt;memahami&lt;/span&gt; agama, khususnya empat imam madzhab yang madzhabnya telah diterima oleh umat Islam, juga imam-imam lain, termasuk ahul bait Nabi, ulamanya para sahabat Nabi, dan Tabi’in jika dapat memperoleh pendapat mereka yang sahih dan valid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita seyogyanya berpendapat bahwa ruang lingkup amal Islami harus mencakup dua madrasah itu, karena kewajiban syar’i menghendaki keduanya. Suasana tsiqah (saling percaya) dan mahabbah (cinta) harus merata kepada seluruh umat sehingga mereka dapat bersama-sama menghadapi perang besar melawan musuh-musuh Islam. Karena itu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;a. Mempelajari dan mengajarkan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; sesuai dengan salah satu madzhab empat imam adalah masyru’, tetapi disarankan untuk mencari rujukan pendapt para madzhab itu kepada sumber utamanya, yaitu Al Kitab dan As Sunnah. Dan hendaklah orang yang mempelajarinya menengok pendapat masdzhab lain, jika memungkinkan. Dijelaskan kepadanya juga bahwa pendapat-pendapat yang lain itu juga benar, dan sangat boleh baginya untuk berpindah mengikuti pendapt itu jika merasa lebih cocok –jika memiliki cukup alasan syar’i, atau ketika dalam kondisi darurat. Seorang da’i yang bisa mengkaji perbedaan pendapat dalam satu masalah akan menjadikannya lebih lunak bersama dengan orang lain, tidak kecewa kepada mereka, karena satu pendapat lalu menuduhnya sesat, karena ada pendapat lain, membuka perang horizontal tanpa ada alasan yang membenarkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;b. Mempelajari dan mengajarkan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah juga masyru’, dan merupakan dasar kajian. Namun melihat pandangan para ulama dan madzhab-madzhab yang ada merupakan dharuriyah (kaharusan) untuk &lt;span class="searchterm2"&gt;memahami&lt;/span&gt; teks dengan baik. Hal ini sangat dibutuhkan oleh para da’i yang berinteraksi dengan kaum muslimin secara luas yang menjadi pengikut salah satu madzhab. Masalah fundamental bagi para da’i bukan mengeluarkan jumhurul ummat dari pandangan satu imam kepada imam lainnya dalam masalah furu’iyah, akantetapi agenda utamanya adalah mengentaskan jumhurul ummat ini dari hukum jahiliyah buatan manusia untuk menegakkan syari’at Allah. Dari itu tidak ada gunanya menyuruh orang meninggalkan madzhab yang telah dipilih, untuk mengikuti ijtihad sang da’i, dengan dalil bahwa itu bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Harus diketahui bahwa mayoritas pendapat yang dinisbatkan kepada nash sesungguhnya hanyalah sekedar pemahaman terhadap nash itu, dan tidak ada yang bisa menghalangi keberadaan pemahaman lain. Dan bahwasannya pendapat para imam madzhab minimal adalah pemahaman yang lain yang memiliki dalil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;c. Kita sangat mengharapkan kalau para aktivis Islam dan para da’i adalah orang-orang yang mampu mengkaji hukum-hukum agama beserta dalilnya. Dapat diselenggarakan bagi mereka itu forum-forum diskusi dari waktu ke waktu seputar masalah-masalah yang diperselisihkan dalam suasan penuh mahabbah dan penuh tsiqah. Forum-forum itu akan memperluas pandangan dan wawasan kita. Barangkali ada titik temu antara mereka itu dalam satu pandangan, meskipun titik temu itu tidak akan pernah menjadi satu-satunya pandangan bagi seluruh umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;3. Fiqh amal Islami atau &lt;span class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt; Perubahan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya amal Islami sekarang ini bertujuan untuk membangun masyarakat Islami dan negara yang Islami. Hal ini harus menjadi agenda utama dalam kehidupan setiap muslim, karena itu merupakan perintah agama yang sangat penting yang jika diwujudkan maka seluruh perintah agama lainnya akan terlaksana. Dan jika belum terealisasikan, maka seluruh ajaran agama yang lain akan tersembunyi dan terkontaminasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya usaha kaum muslimin, dalam level ulama, pergerakan, dan golongan untuk menegakkan hukum Islam, harus dipandu juga dengan fiqh syar’i, baik dalam pembatasan marhalah (level), atau metodenya dan segala yang berhubungan dengannya. Fiqh jenis ini tidak pernah dibahas oleh para ulama kita di masa lalu, karena mereka memang tidak membutuhkannya. Fiqih inilah yang disebut oleh Sayyid Quthb dengan “Fiqhul Harakah” sebagai bandingan dari “Fiqhul Auraq (kertas)” yang tidak dapat mewakili keseluruhan fiqhut-turats, tetapi hanya bermuatan sebagian sisi fiqh yang masih merupakan ungkapan di atas kertas dan belum terealisir. Sedangkan fiqhul-halal wal haram yang diterapkan secara pribadi, maka tidak disebut Sayyid Quthb sebagai fiqhul-auraq. &lt;span class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt; inilah yang diserukan untuk ditekuni dan diamalkan dengan sepenuh hati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fiqh yang harus dipelajari setiap aktivis Islam hari ini adalah pendalaman hukum-hukum yang mengharuskan amal Islami modern ini, baik dari sisi pentahapan amal, metode amal, hubungan dengan orang lain yang muslim maupun non-muslim, dengan seluruh muatan hubungan ini mulai dari perdamaian, gencatan senjata, koalisi, peperangan, dan lain-lain sehingga perjalanan para aktivis itu dipandu oleh bukti dan petunjuk yang jelas. Fiqh semacam ini tidak untuk menggantikan fiqhul-ibadat dan muamalah serta bab fiqh lainnya. Fiqh ini hanya sebagian dari &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; itu. Para ulama telah mengkajinya sesuai dengan suasana saat itu, dan sekarang membutuhkan pengkajian ulang dalam ruang lingkup kondisi sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dua fiqh ini (fiqhut-turats dan fiqhul harakat) sangat dibutuhkan dan menjadi kewajiban, sedangkan fiqhul-auraq adalah fiqh yang ditolak meskipun bagian dari peninggalan klasik. Itulah &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; yang mengada-ada masalah yang pernah ditolak oleh para imam di masa lalu. Mereka berkata kepada penanya masalah yang mengada-ada itu dengan pernyataan, “Biarkan sampai ada dahulu.” Itulah cara mereka ketika hukum Islam telah tegak berdiri, apakah pantas di zaman sekarang ini untuk kita mengurusi masalah-masalah yang tidak terjadi, dengan melupakan problematika umat Islam yang lebih besar dan serius?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;4. Diantara Keistimewaan &lt;span class="searchterm1"&gt;Fiqh&lt;/span&gt; Islam adalah Lengkap dan Realistis &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya fiqh Islam yang komprehensif, dan perhatiannya terhadap seluruh problema umat Islam dalam skala personal dan komunal, adalah sesuatu yang aksiomatik, karena fiqh itu merupakan produk dari ajaran Islam yang komprehensif. Fiqh yang tidak melarang untuk memberikan perhatian lebih pada salah satu sisi fqih daripada sisi lainnya, jika memang kebutuhan kepadanya lebih besar. Yang dilarang oleh fiqh Islam adalah mengabaikan salah satu sisi fiqh dengan pengabaian total, dan membengkakkan perhatian pada fiqh lainnya. Jika fiqh ibadah telah mendapatkan porsi besar dalam sejarah Islam karena situasi yang telah kita ketahui semua, maka hal ini tidak boleh membuat kita meninggalkan sisi fiqh lainnya. Sangat mungkin menjadi kewajiban atau yang lebih bermanfaat bagi umat kita hari ini adalah pendalaman dan pengorisinilan fiqhul harakah agar serasi dengan &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt;ul ibadah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fiqh Islam adalah fiqh yang riil. Definisi fiqh seperti yang tersebut di atas adalah sekumpulan hukum Islam yang wajib ditaati setiap muslim dalam kahidupan praktisnya. Dengan demikian, fiqh Islam bukan fiqh yang mengada-ada. Realitas fiqh Islam mengharuskan perhatian fiqh itu untuk menjelaskan hukum-hukum syar’i dalam setiap masalah yang terjadi. Dan masalah terpenting yang dihadapi kaum muslimin hari ini adalah usaha untuk mengembalikan kejayaan hukum Islam. Maka &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; Islam harus pula menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan usaha ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kelengkapan dan relitas fiqh Islam pada zaman sekarang ini mengharuskan kita untuk memberikan perhatian utuh kepada fiqhut-turats dan fiqhul harakah sehingga keduanya saling melengkapi. Kita tidak boleh sekalipun menjadikan dua fiqh ini saling berhadap-hadapan (diadu). Seorang da’i tanpa fiqh seperti orang yang berjalan di padang pasir tanpa bekal; dan ahli &lt;span class="searchterm1"&gt;fiqh&lt;/span&gt; yang tidak terlibat dengan aktivitas saudaranya dalam memikul beban berat usaha mengembalikan kekuasaan Islam –sedangkan ia orang yang pertama kali mengetahui hukum wajibnya atas setiap muslim– ia tidak akan pernah menjadi contoh kebaikan sebagai seorang ulama yang mengamalkan ilmunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By. Dakwatuna.Com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-5010139372932373900?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/5010139372932373900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=5010139372932373900' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5010139372932373900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/5010139372932373900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/07/fiqh-bag-3.html' title='Fiqh Bag. 3'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-6945203623702845853</id><published>2008-07-22T07:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T08:31:46.671-07:00</updated><title type='text'>Fiqh Bag. 2</title><content type='html'>&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;3. Sejak Wafatnya Empat Imam Madzhab Sampai Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaum muslimin menerima empat madzhab dengan talaqqi, dan menjadikannya sebagai pegangan fiqh Islam. Para ulama mempelajari dan mengajarkannya. Mulailah fiqh menyebar luas dari terapi masalah sampai pada analisis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kajian-kajian fiqh tersebar luas, dan mulai muncul fanatik madzhab yang menjadikan pengikut suatu madzhab menganggap dirinyalah yang Islam, dari yang semula hanya merupakan hukum dan pendapat yang berkembang dalam batas-batas ajaran Islam yang luas. Kemudian para ulama empat madzhab itu mengeluarkan fatwa tentang tertutupnya pintu ijtihad, sehingga orang-orang yang tidak berkompeten tidak masuk ke wilayah ini, lalu diikuti oleh orang-orang awam sehingga umat Islam berada dalam gelombang ketidakpastian yang menghapus apa yang sudah dibangun oleh para ulama besar sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikianlah sehingga berubah kepada taqlid. Para ulama mengarahkan usahanya untuk mencari dalil atas pendapat-pendapat madzhab, berijtihad di dalam madzhab, mentarjih antara pendapat yang berbeda-beda dalam satu madzhab. Jadilah fiqh berputar dalam dirinya sendiri. Seorang ulama fiqh mensyarah (menjelaskan) kitab fiqh imam sebelumnya dengan penjelasan rinci berjilid-jilid besar, lalu datang ulama berikutnya yang meringkasnya, kemudian ada yang memberikan ta’liq (catatan) atas ringkasan itu untuk menguraikan sebagian ketidakjelasan, lalu ada yang menulis hasyiyah (catatan pinggir)-nya, kemudian ada yang kembali menguraikannya dengan detail.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikianlah fiqh mengalami kejumudan untuk menguraikan realitas yang ada. Terjadi pembengkakan kajian masalah ibadah sementara masalah-masalah politik Islam, masalah mu’amalat. Sehingga ketika terjadi serangan Barat terhadap negeri Islam pada akhir abad sembilan belas ditemukan banyak sekali orang-orang yang sudah kalah jiwanya, lalu menerima banyak sekali pikiran Barat yang bertentangan dengan syari’at Islam dan menanggalkan atribut ke-Islam-an. Sehingga ada seorang tokoh yang berfatwa memperbolehkan uang riba untuk memberi makan anak-anak yatim, mengesahkan aturan yang menyamakan hak laki-laki dan wanita dalam memperoleh harta warisan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buah dari fanatik madzhab adalah kejumudan fiqh yang melatarbelakangi runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Pada masa itu memang ada ulama yang menyerukan untuk menolak taqlid. Banyak juga di antara ulama madzhab yang berijtihad dan berbeda dengan pendapat madzhabnya, dengan mentarjih pendapat madzhab lainnya. Tetapi terpaku dengan satu madzhab fiqh menjadi cirri menonjol mayoritas umat Islam saat itu, terutama ketika ada suara dari sebagian pengikut madzhab yang fanatik melarang pindah ke madzhab lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;4. Sejak Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah Sampai Hari Ini&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fase ini ditandai dengan semakin luasnya perbedaan antara dua madrasah fiqh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol  style="font-family:arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Al-Madrasah Al-Madzhabiyyah, yaitu madrasah pengikut empat madzhab yang menganggap telah tertutupnya pintu ijtihad, dan keharusan seorang muslim untuk konsisten dengan salah satu dari empat madzhab.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Madrasah As-Salafiyah, yaitu madrasah yang menghendaki kembali langsung kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, melarang seorang muslim taqlid dalam masalah furu’, mewajibkannya berijtihad, mengkaji, dan mengambil langsung dari teks Al-Qur’an dan Sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang pertarungan ini sudak ada sejak fase sebelumnya, namun pada fase ini pertarungan itu semakin tajam dan meluas; dan menjadi tema penting dalam diskusi-diskusi antara para ulama dan pencari ilmu, bahkan di kalangan awam. Pendukung masing-masing madrasah menulis buku, menyebarkan artikel untuk mendukung pandangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Luasnya ruang dialog berdampak luas bagi mundurnya masing-masing pendukung madrasah itu dari sikap sektariannya, dan dapat mempersempit ruang perbedaan, dan bahkan terjadi pencairan, kalau saja tidak ada orang-orang yang ta’ashshub (fanatik) terhadap masing-masing madrasah, yang terus mempertahankan sikap sektariannya yang mengundang reaksi pihak lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sini kita akan mengambil batas-batas kaidah syar’i yang memungkinkan dua madrasah itu bertemu, dan jauh dari sikap sektarian dan fanatik, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;a. Masyru’iyyah (disyari’atkannya) Taqlid&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Taqlid artinya mengikuti pendapat seorang ulama tanpa mengatahui dalil kebenaran pendapat itu. Hal ini disyari’atkan bagi kaum muslimin yang awam dalam masalah-masalah fiqh. Dalilnya antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol  style="font-family:arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Firman Allah, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Perintah Allah ini pada orang yang tidak mengetahui hukum agama untuk bertanya kepada ahludz dzikr, yaitu orang-orang yang mengetahuinya. Dan yang terendah dalam perintah ini adalah al-ibahah (boleh). Kesimpulannya, diperbolehkan bagi orang awam untuk bertanya kepada ulama dan mengikuti pendapatnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Firman Allah, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122). Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa tidak mungkin seluruh kaum muslimin mempelajari fiqh, akan tetapi ada sekelompok orang yang fokus, kemudian mengajarkannya kepada saudara-saudaranya. Jika memungkinkan atau semua umat Islam disuruh mendalami fiqh dalam setiap masalah furu’iyah, maka Allah tidak memberikan larangan di atas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Realitas sahabat r.a. yang merupakan generasi terbaik, hanya terdapat sedikit fuqaha, dan mayoritas mereka merujuk kepada para fuqaha yang minoritas itu untuk mendapatkan fatwa masalah-masalah agamanya. Menerima fatwanya tanpa menanyakan apa dalilnya, kecuali dalam kondisi tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rasulullah saw mengutus seorang ulama, atau qari’ (pembaca Al-Qur’an) dari kalangan sahabat ke satu kabilah untuk mengajarkan Islam dan Al-Qur’an. Kabilah itu menerima saja dari sahabat itu tanpa menanyakan apa dalilnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikianlah ijma’ (kesepakatan) sahabat tentang diperbolehkannya orang awam mengikuti seorang mujtahid (Lihat Kitab Al-Ahkam, Al-Amidiy dan Al-Mushtashfa, Al Ghazali).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Logis dan riilnya, apa yang bisa dilakukan oleh seorang muslim yang awam dan tersibukkan dengan urusan pekerjaan? Apa yang bisa dilakukan seorang arsitek, dokter, dan yang lainnya jika menghadapi masalah agama? Apakan kita mengharuskan mereka untuk mengkaji buku-buku tafsir, dan hadits untuk mendapatkan nash atau tidak? Lalu jika tidak menemukan, maka harus merujuk kepada buku-buku bahasa agar memahaminya. Jika menemukan lebih dari satu nash, maka harus mentarjih salah satunya. Dan ini tidak akan terjadi kecuali setelah melakukan kajian panjang, mengetahui nasakh-mansukh, dan lain-lain. Jika tidak menemukan nash, kita haruskan berijtihad. Sementara seseorang tidak akan bisa berijtihad jika tidak memilki kemampuan ijtihad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan ketika kita perketat syarat ijtihad, maka kebanyakan orang tak akan mampu, sebagaimana yang terjadi sekarang ini; atau akan terjadi ijtihad tanpa batasan syar’iy, tanpa ilmu. Dan ini lebih berbahaya daripada mengembalikan mereka kepada ulama yang telah menfokuskan diri untuk menggali hukum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Realitas madrasah salafiyah sendiri –sudah tidak rahasia lagi– bahwa ulama madrasah ini banyak berbeda pendapat satu dengan yang lainnya dalam masalah hukum Islam, bisa karena perbedaan penafsiran, atau mentashih hadits, atau dalam menggali hukum, dan setiap ulama itu memiliki pengikut pendapatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada yang mengatakan bahwa hal ini bukan taqlid tetapi ittiba’ karena pengikut itu mengetahui dalilnya dan menerimanya. Kami katakan, mengapa para ulama itu tidak mengenali dalil ulama lain dan menerimanya? Apakah ketika seseorang menerima dalil salah seorang ulama dianggap tidak ada nilainya karena berbeda dengan ulama lainnya? Apa bedanya hal ini dengan para pengikut yang menerima dalil yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, dengan para pengikut taqlid tanpa bertanya tentang dalilnya, karena dia menyadari ketidakmampuannya untuk menerima atau menolak dalil?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terakhir, telah berlangsung ijma’ tentang diperbolehkannya taqlid sejak abad pertama, meskipun ada sebagian sektarian pengikut madrasah salafiyah yang berbeda pendapat. Pada kenyataannya mereka menerima taqlid itu dengan bentuk lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;b. Taqlid bukanlah kewajiban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara kesalahan umum pada fase fanatik madzhab adalah terbaginya kaum muslimin pada mujtahid dan muqallid. Lalu tertutupnya pintu ijtihad. Sehingga setiap orang menjadi muqallid, termasuk para ulama dan pencari ilmu. Karena itulah melemah atau hilang semangat untuk mengkaji, berdiskusi, dan melakukan pendalaman. Obsesi para ulama muqallid hanya terbatas pada pembelaan pendapat madzhabnya –meskipun dengan dalil yang lemah, meskipun mereka tidak berhak karena statusnya sebagai muqallid– untuk berbeda dengan madzhab. Al-Iz ibn Abdussalam dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” mengkritik para fuqaha yang menyikapi kelemahan dalil imamnya, lalu berusaha mencari pembenarannya, dan tidak menemukan pembelaan kelemahannya, tetapi masih saja mengikutinya dengan meninggalkan Al-Kitab, As-Sunnah, dan qiyas yang shahih, karena mempertahankan kejumudan taqlid imamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalimat itu tidak bermaksudkan untuk membuka pintu ijtihad yang bisa dimasuki siapa saja tanpa kemampuan yang cukup. Tapi hanya bertujuan untuk mengatakan bahwa taqlid dan urgensinya adalah dalam batas mubah dan boleh, tidak akan berubah menjadi wajib, kecuali pada orang awam yang sama sekali tidak memiliki kemampuan pengkajian dan penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan bagi orang yang mampu mempelajari dan meneliti, atau mumpuni untuk berpindah dari taqlid (mengikuti pendapat ulama tanpa mengetahui dalilnya) kepada ittiba’ (mengikuti pendapat ulama setelah mengetahui dalilnya), mengetahui dalil dan menerimanya tidak berarti melegitimasinya menjadi ahli ijtihad. Hanya memperbolehkannya. Bisa jadi dalam satu masalah ketika mempelajari dalil-dalil madzhabnya kemudian menemukan kelemahan dalil itu, mengharuskannya untuk mengambil pendapat madzhab lain yang lebih kuat. Posisi ini dapat disebut “Level mengkaji hukum agama” atau level orang yang mampu mengkaji hukum-hukum agama, memahaminya, mengenali dalilnya, dan merujuk kepada sumber utama untuk menilainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;c. Taqlid tidak terbatas pada empat Madzhab&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masalah umum yang ada di masa fanatik madzhab adalah pembatasan taqlid pada empat madzhab saja. Hal ini tidak berdasar pada dalil syar’i yang melarang taqlid ulama lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dasarnya hanyalah bahwa madzhab empat itu telah lengkap pembukuan dan penjelasannya, dapat diperoleh dengan berurutan, terbagi menurut bab yang rapi, dan tersedia para ulama yang mengajarkan, sehingga bisa dengan mudah meyakinkan dan menisbatkan pendapat itu kepada aslinya, imamnya atau madzhabnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan madzhab yang lain, sangat sulit untuk menemukan nisbat pendapat itu kepada yang berhak. Kalau toh bisa ditemukan nisbatnya, pendapat-pendapat itu tidak didukung oleh para pengikut madzhab yang menjelaskannya ketika kita membutuhkan penjelasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atas dasar sebab-sebab teknis di atas itulah kemudian para ulama membatasi taqlid hanya pada empat madzhab saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun sekarang ini, ketika buku-buku klasik Islam telah dicetak dan telah berada di tangan kaum muslimin, dan pendapat para sahabat dan tabiin serta para mujtahid –baik fase sebelum era empat madzhab, atau yang semasa mereka, atau sesudahnya– telah tersebar dan sangat mudah untuk menisbatkan kepada pemilik aslinya, maka tidak ada lagi halangan untuk bertaqlid kepada mereka dalam satu masalah atau yang lainnya, jika kita berkemampuan untuk mengkaji dalil-dalilnya. Apalagi jika ditemukan bahwa dalil-dalil mereka lebih kuat dari dalil yang sedang kita amalkan sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Izz bin Abdussalam berkata, “Maka ketika ada madzhab yang menurutnya lebih kuat, maka bagi orang yang taqlid itu diperbolehkan mengikutinya meskipun di luar empat madzhab.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;d. Diperbolehkan iltizam (konsisten) dengan satu madzhab bagi orang awam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara kesalahan yang menyebar di kalangan kaum muslimin pada masa ta’ashshub madzhab adalah kewajiban iltizam dengan satu madzhab saja, dan haram intiqal (berpindah) ke madzhab lainnya. Dan jawaban dari pandangan yang sektarian ini adalah larangan iltizam dengan satu madzhab. Kedua pendapat ini tanpa dalil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kewajiban iltizam dengan satu madzhab dan larangan intiqal madzhab lain baik secara umum maupun dalam masalah tertentu, baik sebelum atau sesudah mengamalkannya, tidak ada dalil syar’inya. Sebab yang wajib adalah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu iltizam dengan hukum syar’iy. Dan kita diperbolehkan jika tidak mengetahuinya langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk bertanya kepada ahludz-dzikri tanpa ada pambatasan satu persatunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para sahabat bertanya kepada para fuqaha’nya, dan fuqaha menjawab pertanyaan mereka. Tidak seorangpun dari sahabat yang ditanya itu mewajibkannya untuk tidak bertanya lagi kepada yang lain baik dalam masalah yang sama maupun masalah yang lainnya. Demikianlah kaum muslimin di sepanjang masa, sampai di masa empat imam madzhab itu sendiri. Tidak ada seorangpun dari mereka yang melarang muridnya mengambil pendapat ulama lain. Tidak pernah ada pemikiran yang mewajibkan iltizam dan melarang intiqal, kecuali pada masa belakangan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikian juga pendapat yang mengharamkan iltizam dengan satu madzhab dan menganggapnya sebagai syirik. Ini juga tidak ada dalilnya. Jika ada seseorang yang merasa cocok dengan salah satu ulama karena ketakwaannya, dan selalu lebih ia sukai fatwanya, maka dalam Islam juga tidak ada dalil yang melarangnya, baik ulama itu dari kalangan empat madzhab atau selainnya. Yang tidak boleh adalah meyakini bahwa iltizam itu hukumnya wajib syar’i. Kemudian jika suatu saat ingin intiqal ke madzhab lain, maka tidak ada yang menghalanginya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;e. Kewajiban mengikuti dalil bagi pengikut yang mampu mengkaji&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan seorang muslim pengikut madzhab yang sudah mampu mempelajari hukum syar’i, maka kewajibannya adalah mencari dalil setiap masalah yang dikajinya, mendalaminya, memahami pendapat yang berbeda dan dalil-dalilnya, kemudian memilih yang paling dekat dengan Kitabullah dan As-Sunnah. Meskipun sikap ini membuatnya mengambil madzhab ini dan itu. Bahkan jika mengharuskannya untuk berijtihad sendiri dalam masalah-masalah baru yan belum dibahas oleh ulama sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Walau demikian, tidak ada larangan syar’i bagi seorang muslim pengikut madzhab untuk mengikuti satu madzhab sehingga dia mampu mempelajari seluruh masalah dengan keharusan mengikuti dalil yang lebih kuat dan bertahan pada dasar madzhab pilihannya dalam masalah lain. Karena Allah tidak pernah memberikan taklif kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya. Terkadang seorang muslim harus berbulan-bulan tafarrugh (menfokuskan diri) untuk mempelajari satu masalah sehingga dapat menemukan dalil yang lebih kuat yang memuaskannya. Maka tidak salah kalau dia masih menjadi muqallid (taqlid) dengan salah satu imam, sehingga ia mampu mempelajari masalah. Lalu ketika telah menemukan dalilnya masih bersama dengan imam yang diikutinya, ia bisa bertahan di situ. Dan jika mendapatkan dalil yang kuat ada pada imam lain, maka ia akan pindah ke pendapat lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;f. Diperbolehkan Talfiq &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Talfiq artinya mengambil dari berbagai madzhab untuk satu masalah dan sampai kepada cara madzhab itu berpendapat. Secara ringkas talfiq adalah seperti penjelasan berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengambil satu masalah dari satu madzhab dan mengambil masalah lain dari madzhab lain yang tidak berhubungan dengan masalah pertama, diperbolehkan menurut jumhurul ulama yang tidak mewajibkan iltizam dengan satu madzhab dan memperbolehkan intiqal ke madzhab lain. Seperti seorang muslim yang shalat dengan Madzhab Syafi’i, kemudian zakatnya dengan Madzhab Hanafi, atau puasa dengan Madzhab Maliki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iltizam tentang satu masalah syar’i dengan satu madzhab, lalu intiqal ke madzhab lain dalam masalah yang sama. Seperti shalat zhuhur dengan satu madzhab kemudian shalat ashar dengan madzhab lain, hal ini juga diperbolehkan oleh jumhurul ulama yang tidak mewajibkan iltizam dengan satu madzhab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bentuk talfiq yang diperselisihkan boleh tidaknya adalah talfiq dalam satu masalah saja. Seperti seorang muslim berwudhu mengusap sebagian kepala sesuai dengan Madzhab Syafi’i, kemudian menyentuh wanita dan merasa tidak batal karena taqlid kepada Imam Abu Hanifah dan Imam Malik yang menganggap bersentuhan dengan wanita tidak membatalkan wudhu, kemudian ia shalat. Para ulama madzhab belakangan mengatakan, wudhu ini sudah batal karena telah bersentuhan dengan wanita, dan tidak sah menurut Abu Hanifah karena mengusap kepalanya tidak sampai seperempat, tidak sah menurut Imam Malik karena tidak mengusap seluruh kepala. Talfiq di sini menyeret kepada cara yang tidak diajarkan oleh madzhab manapun. Inilah yang tidak diperbolehkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Sesungguhnya talfiq jika dilakukan dengan dalil yang kuat dari orang yang mampu mengkaji dalil-dalil hukum syar’i, diperbolehkan. Karena kewajiban seorang muslim adalah berijtihad untuk dirinya sendiri. Dan ini bukan sisi yang diperselisihkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Sedangkan talfiq yang dilakukan orang awam, diperbolehkan juga, karena madzhabnya orang awam adalah mengikuti fatwa muftinya. Dan orang awam tidak ditugaskan untuk mengkaji madzhab dan melihat sudut-sudut perbedaan. Sebab, jika dia mampu melakukan hal ini tentu dia menjadi muqallid, bukan awam. Para sahabat r.a. ketika bertanya tentang satu masalah tidak menanyakan kepada seluruh orang yang mengetahuinya, dan yang ditanya juga tidak mensyaratkan jika sudah mengambil pendapatnya dalam masalah ini agar tidak bertanya kepada orang lain dalam masalah yang sama. Ini artinya bahwa generasi terbaik telah melakukan talfiq ketika madzhab dan pendapat para sahabat belum dikumpulkan dan dibukukan. Setiap muslim dapat bertanya kepada siapa saja sahabat yang ditemui, lalu bertanya ke sahabat lainnya, tanpa meneliti apakah dua pertanyaan itu berkaitan atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Contoh tentang wudhu di atas, dapat kami jelaskan bahwa wudhu itu telah benar menurut madzhab Syafi’i, sudah benar menurut pandangan syar’i, karena Madzhab Syafi’i bukan syari’at yang berdiri sendiri, tetapi pintu yang dipergunakan seorang muslim untuk sampai kepada syari’ah Allah. Ketika sudah masuk ke madzhab itu ia sudah berada di ruang syari’ah, wudhunya benar dalam pandangan syari’ah. Jika dia menyentuh wanita dengan mengikuti madzhab Hanafi, maka wudhunya tetap sah sesuai dengan madzhab itu, artinya sesuai dengan syari’at Islam karena Madzhab hanafi juga bagian dari syari’at Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. Kemudian talfiq yang dilakukan dengan dalil yang kuat, oleh orang yang mumpuni, dan larangan bagi orang awam, akan berkonotasi bahwa ada satu masalah yang haram atas seorang muslim dan halal bagi muslim lainnya. Hal ini tidak bisa diterima dalam hukum Islam yang di antara karakteristiknya adalah menyeluruh. Yang telah halal dalam syari’ah, halal untuk semua; dan yang haram untuk dalam syari’ah, haram untuk semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Syeikh Ath-Tharsusiy, Al-Allamah Abus Su’ud, Al-Allamah Ibnu Nujaim, Al-Allamah Ibnu Arafah Al-Malikiy, Al-Allamah Al-Adawiy, dan lain-lain, telah menfatwakan diperbolehkannya hukum murakkab atau talfiq (lihat Kitab Ushul Fiqh Al Islamiy DR. Wahbah Az Zuhailiy).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By. Dakwatuna.Com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-6945203623702845853?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/6945203623702845853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=6945203623702845853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/6945203623702845853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/6945203623702845853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/07/fiqh-bag-2.html' title='Fiqh Bag. 2'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-7677306370790545139</id><published>2008-07-22T07:28:00.001-07:00</published><updated>2008-07-22T08:30:51.381-07:00</updated><title type='text'>Fiqh Bag. 1</title><content type='html'>&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com -&lt;/strong&gt; Al-Fiqh adalah sekumpulan hukum syar’i yang wajib dipegangi oleh setiap muslim dalam kehidupan praktisnya. Hukum-hukum ini mencakup urusan pribadi maupun sosial, meliputi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol  style="font-family:arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Al-Ibadah, yaitu hukum yang berkaitan dengan shalat, haji dan zakat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Ahwal asy-Syahsiyyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan keluarga sejak awal sampai akhir.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Mu’amalat, yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan antar manusia satu dengan yang lain seperti hukum akad, hak kepemilikan, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Ahkam as-Sulthaniyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan negara dan rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ahakmus silmi wal harbi, yaitu yang mengatur  hubungan antar negara.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya kompleksitas fiqh Islam terhadap masalah-masalah ini dan sejenisnya menegaskan bahwa Islam adalah jalan hidup yang tidak hanya mengatur agama, tetapi juga mengatur negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Dari Mana Hukum-hukum Syar’i Digali?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaum muslimin telah bersepakat bahwa referensi dasar setiap muslim untuk menggali hukum-hukum Islam adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Perbedaan pendapat terjadi pada sumber-sumber hukum lainnya, yaitu ijam’, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, dan al-&lt;span id="high_1" class="searchterm1"&gt;urf&lt;/span&gt; (adab kebiasaan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenyataannya sumber-sumber yang berbeda-beda ini tetap merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul juga. Dari itulah dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua referensi setiap muslim untuk mengetahui hukum Islam. Hal ini tidak berarti kita menolak sumber hukum lainnya, karena sumber-sumber hukum yang lain itu pun merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="high_2" class="searchterm2"&gt;Macam-macam&lt;/span&gt; Hukum Syar’i&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum Syar’i ada dua macam, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Qath’iy, yaitu sekumpulan hukum yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kesimpulan yang qath’iy (pasti), seperti:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Kewajiban shalat, dari firman Allah.:&lt;span class="arabic"&gt;  وأقيموا الصلاة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Kewajiban puasa, dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt; فمن شهد منكم الشهر فليصمه&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Kewajiban zakat, dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt; وآتوا الزكاة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Kewajiban haji, dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt;  ولله على الناس حج البيت&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Larangan riba, dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt;  وذروا ما بقي من الربا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Larangan zina dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt;  ولا تقربوا الزنا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Larangan khamr, dari firman Allah:&lt;span class="arabic"&gt;  فاجتنبوه لعلكم تفلحون&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Kedudukan niat, karena sabda Nabi:&lt;span class="arabic"&gt;  إنما الأعمال بالنيات&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum syar’i yang bersifat qath’iy ini tidak ada peluang khilaf (beda pendapat) di antara kaum muslimin di level ulama, madzhab, dan umat secara umum. Sebab, semua itu adalah hukum-hukum agama yang secara aksiomatis diterima sebagai dharuriyyat (kepastian). Dan jumlahnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan hukum syar’i yang zhanniy.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Zhanny, meliputi, pertama, sekumpulan hukum yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan kesimpulan zhanniy (hipotesa); dan kedua, sekumpulan hukum yang digali oleh para ulama dari sumber-sumber syar’i yang lain dengan berijtihad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di antara contoh bagian pertama adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Besaran usapan kepala yang wajib dilakukan dalam berwudhu: seluruh kepala menurut Imam Malik dan Ahmad, cukup sebagiannya menurut Abu Hanifah dan Asy Syafi’i. Hal ini karena huruf “ba” dalam firman Allah وامسحوا برؤوسكم dapat dipahami dengan berbagai pemahaman, dan tidak terbatas pada satu makna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Jarak perjalanan musafir yang memperbolehkan berbuka bagi orang yang berpuasa dan mengqashar shalat. Empat pos (sekitar 90 km) menurut Madzhab Malikiy, Syafi’iy, dan Hanbali, karena hadits Al-Bukhari meriwayatkan bahwasannya Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud r.aa keduanya mengqashar shalat dan berbuka pada jarak empat pos. Menurut Madzhab Hanafiy jaraknya adalah perjalanan tiga hari (sekitar 82 sampai 85 km) karena hadits Al-Bukhari yang berbunyi, tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan sejauh tiga hari tanpa disertai mahram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan jelas sekali, bahwa pengambilan kesimpulan dari hadits di atas bersifat zhanniy (hipotesis).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan contoh jenis kedua adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;• Isteri orang yang hilang yang tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati. Ijtihad Madzhab Hanafi dan Syafi’i memutuskan bahwa wanita itu menunggu sehingga orang-orang yang sebaya dengan suaminya itu mati, sehingga dapat menyimpulkan bahwa suaminya sudah mati, dan ketika itu baru diputuskan berakhirnya status suami-isteri dan diperbolehkan menikah dengan orang lain. Dalilnya adalah bahwa orang yang hilang itu semula dalam keadaan hidup. Dan prinsipnya ia masih hidup sehingga ada dalil kematiannya. Ini adalah dalil ijtihadiy yang bersifat zhanniy. Sedangkan dalam ijtihad Madzhab Malikiy, dapat diputuskan berakhirnya status suami-isteri antara suami yang hilang sesuai dengan permintaan isteri setelah lewat masa empat tahun hilang dalam keadaan damai (bukan perang) dan satu tahun dalam keadaan perang. Dalilnya adalah menjaga maslahat isteri dan mencegah hal-hal buruk baginya, menghindari kerugian yang timbul dengan mempertahankannya dalam keadaan tergantung. Hal ini juga bersifat ijtihadiy dan zhanniy.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Perkembangan Fiqh Islam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;1. Di Masa Rasulullah saw.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rasulullah saw. semasa hidupnya menjadi referensi setiap muslim untuk mengetahui hukum agamanya. Baik hukum itu diambil dari Al-Qur’an maupun dari Sunnahnya; yang mencakup perbuatan, ucapan, dan ketetapannya. Hukum yang Rasulullah perintahkan adalah hukum Allah yang bersifat qath’iy meskipun berbentuk pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an atau tafsirnya. Karena peran Rasulullah adalah menjelaskan Al-Qur’an. Firman Allah, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun para sahabat tidak selalu dekat dengan Rasulullah –karena di antara para sahabat ada yang musafir atau mukim di negeri yang jauh– sehingga tidak setiap saat bisa bertanya tentang hukum agama yang muncul. Lantas, apa yang bisa mereka lakukan jika ada masalah? Para sahabat berijtihad sebatas kemampuan dan pengetahuan mereka tentang hukum-hukum Islam dari prinsip-prinsip Islam yang bersifat umum. Sehingga ketika berjumpa dengan Rasulullah saw, mereka bertanya tentang apa yang dihadapi. Kemungkinan Rasulullah mengiyakan ijtihad mereka, atau meluruskan jika ada kesalahan. Tetapi Rasulullah tidak pernah sekalipun menolak prinsip ijtihad mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Contohnya seperti yang dialami oleh Ammar bin Yasir. Ammar bin Yasir r.a. berkata, “Rasulullah mengutusku melaksanakan satu tugas, lalu saya junub dan tidak menemukan air. Kemudian aku berguling-guling di tanah seperti hewan. Kemudian aku menemui Nabi dan aku ceritakan hal ini, lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya sudah cukup bagimu dengan kedua tanganmu. Lalu Nabi memukulkan tangannya ke tanah dengan sekali tepukan, kemudian mengusapkan yang kiri pada tangan kanan, punggung tangan dan wajahnya.” (HR. Asy-Syaikhani dengan redaksi Muslim).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kadang sekelompok sahabat berbeda ijtihadnya sehinggga ketika masalah itu disampaikan kepada Rasulullah saw., Beliau menetapkan ijtihad yang benar dan menjelaskan kesalahan yang salah. Pernah juga Rasulullah saw. menerima dua ijtihad yang bertentangan, yaitu ketika Nabi memerintahkan kaum muslimin untuk berangkat ke Bani Quraidhah dengan sabda, “Janganlah ada seseorang yang shalat ashar kecuali di Bani Quraidhah.” (Selengkapnya hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhariy dalam Kitabul Maghaziy).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaum muslimin segera berangkat, dan waktu ashar hampir habis sebelum mereka sampai di Bani Quraidhah. Ada sebagian yang berijtihad dan shalat di jalan sehingga tidak ketinggalan waktu ashar. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. tidak menghendaki kita untuk mengakhirkan shalat ashar lewat waktunya. Dan yang lainnya berijtihad dengan tidak shalat ashar sehingga sampai di Bani Quraidhah sesuai dengan perintah Nabi, sehingga mereka shalat ashar setelah isya’. Maka ketika hal ini sampai kepada Nabi, Nabi tidak mengingkari kedua kelompok ini. Ini menunjukkan kemungkinan multi kebenaran hukum syar’i untuk satu masalah hukum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Sejak Wafat Nabi Sampai Wafatnya Empat Imam Madzhab&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah saw. wafat dan wilayah-wilayah baru Islam sangat luas, mulailah kebutuhan ijtihad para sahabat meningkat tajam. Hal ini disebabkan oleh dua hal:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Masuknya Islam ke masyarakat baru membuat Islam berhadapan dengan problema yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw., tidak ada wahyu yang turun, dan terdapat keharusan untuk mengetahui hukum agama dan penjelasannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Seorang sahabat Nabi tidak mengetahui keseluruhan sunnah Nabi. Karena Rasulullah saw. menyampaikan atau mempraktekkan satu hukum syar’i di hadapan sebagian sahabat, atau bahkan di hadapan satu orang sahabat saja, tidak diliput oleh keseluruhan sahabat. Hal ini mendorong sebagian sahabat berijtihad dalam masalah yang tidak diketahuinya dari Rasulullah saw., pada saat yang sama mungkin sahabat lain menerima langsung hukum syar’i itu dari Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jarak antara para sahabat yang berjauhan setelah wafatnya Umar bin Al Khaththab r.a., terbukalah ruang tampilnya dua madrasah (sekolah) yang berbeda dalam menggali fiqh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Madrasatul Hadits di Hijaz, disebut demikian karena kebanyakan mereka berpegang kepada riwayat hadits. Hijaz adalah lahan Islam pertama. Setiap penduduknya kadang memiliki satu hadits atau lebih. Sebagaimana tabiat dan problem masyarakat yang tidak mengalami banyak perubahan, sehingga tidak memerlukan ijtihad.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Madrasatur-ra’yi di Kufah. Disebut demikian karena banyak menggunakan akal dalam mengenali hukum-hukum syar’i. Hal ini terpulang kepada sedikitnya hadits akibat sedikitnya sahabat di sana, dan karena banyaknya problema baru dalam masyarakat baru yang tidak ada dasarnya sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada awalnya perbedaan antara dua madrasah itu sangat tajam. Hanya saja kemudian semakin menyempit bersamaan dengan perkembangan waktu, khususnya setelah hadits-hadits ditulis dan terbitkan dalam bentuk buku (pembukuan buku-buku hadits). Ditambah oleh keseriusan para ulama untuk menyaring dan menjelaskan mana yang shahih, dhaif (lemah), dan palsu, sehingga tidak banyak membutuhkan pendapat kecuali ketika tidak ada nash untuk satu masalah yang timbul. Adapun berijtihad dalam alur nash itu sendiri sudah ada di Madrasatul Hadits sebagaimana terdapat di Madrasatur-ra’yi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada fase inilah terjadi perkembangan fiqh yang sangat besar dan menjadi satu ilmu tersendiri dengan menampilkan ulama-ulama besar yang terkenal. Mereka adalah ulama empat madzhab, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Abu Hanifah, An-Nu’man bin Tsabit (80-150 H) dikenal dengan sebutan Al-Imam Al-A’zham (ulama besar), berasal dari Persia. Pemegang kepemimpinan ahlur-ra’yi, pencetus pemikiran istihsan (menganggap baik sesuatu), dan menjadikannya sebagai salah satu sumber hukum Islam. Kepadanyalah Madzhab Hanafi dinisbatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Malik bin Anas Al-Ashbahi (93-179 H). Dialah Imam Ahli Madinah yang menggabungkan antara hadits dan pemikiran dalam fiqihnya. Dialah pencetus istilah al-mashalih al-mursalah (kebaikan yang tidak disebutkan dalam teks) dan menjadikannya sebagai sumber hukum Islam. Kepadanyalah Madzhab Maliki dinisbatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Qurasyi (150-204 H). Madzhabnya lebih dekat kepada ahlul hadits, meskipun ia banyak mengambil ilmu dari pengikut Abu Hanifah dan Malik bin Anas. Kepadanyalah Madzhab Syafi’iy dinisbatkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibaniy (164-241 H). Dia adalah murid Imam Syafi’i, dan madzhabnya lebih dekat kepada ahlul hadits.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan kenyataannya sebelum munculnya para imam ini, bersama dan sesudah mereka itu, terdapat ulama-ulama besar yang tidak kalah perannya, terutama ulama di kalangan sahabat, seperti Abdullah ibn Mas’ud, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, dan Zaid bin Tsabit. Demikian juga ulama di masa tabi’in seperti Said bin Musayyib, Atha’ bin Abi Rabah, Ibrahim an-Nakha’iy, Al-Hasan Al-Bashriy, Mak-hul, dan Thawus. Kemudian para gurunya empat imam madzhab itu, dan ulama semasanya seperti Imam Ja’far Ash-Shadiq, Al-Auza’iy, Ibnu Syubrumah, Al-Laits bin Sa’d, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi empat Imam Madzhab itu memiliki para pengikut yang merangkum pendapatnya, merapikannya, menjelaskannya, atau meringkasnya untuk disajikan dengan mudah kepada kaum muslimin. Sehingga, kaum muslimin dapat memperoleh apa saja yang membantunya memahami hukum Islam dengan tersusun rapi. Kemudian diajarkan di masjid-masjid beberapa tahun. Demikianlah sehingga menjadi pondasi bagi kehidupan kaum muslimin, membuatnya sudah cukup sehingga mereka tidak perlu merujuk kepada buku-buku tafsir, atau hadits untuk mengetahui hukum Islam karena telah disajikan dengan methode madzhab fiqh yang instant.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-7677306370790545139?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/7677306370790545139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=7677306370790545139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7677306370790545139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7677306370790545139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/07/fiqh-bag-1.html' title='Fiqh Bag. 1'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-3630222163770698963</id><published>2008-07-22T07:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T08:28:55.222-07:00</updated><title type='text'>Ushul Fiqih</title><content type='html'>&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah kecuali dengan ilmu ushul fiqh.” (Al-Amidi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Definisi Ushul Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para ulama ushul menjelaskan pengertian ushul fiqh dari dua sudut pandang. Pertama dari pengertian kata ushul dan fiqh secara terpisah, kedua dari sudut pandang ushul fiqh sebagai disiplin ilmu tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ushul Fiqh ditinjau dari 2 kata yang membentuknya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Ushul&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-ushuul adalah bentuk jamak dari al-ashl yang secara etimologis berarti ma yubna ‘alaihi ghairuhu (dasar segala sesuatu, pondasi, asas, atau akar).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, ashluha (akarnya) teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan menurut istilah, kata al-ashl berarti dalil, misalnya: para ulama mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;أصل هذا الحكم من الكتاب آية كذا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Dalil tentang hukum masalah ini ialah ayat sekian dalam Al-Qur’an).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi Ushul Fiqh adalah dalil-dalil fiqh. Dalil-dalil yang dimaksud adalah dalil-dalil yang bersifat global atau kaidah umum, sedangkan dalil-dalil rinci dibahas dalam ilmu fiqh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Al-Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الفقه في اللغة: العلم بالشيء والفهم له&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-fiqh menurut bahasa berarti pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut istilah para ulama:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الفقه: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terinci).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Definisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الحكم: إسناد أمر إلى آخر إيجابا أو سلبا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum adalah penisbatan sesuatu kepada yang lain atau penafian sesuatu dari yang lain. Misalnya: kita telah menghukumi dunia bila kita mengatakan dunia ini fana, atau dunia ini tidak kekal, karena kita menisbatkan sifat fana kepada dunia atau menafikan sifat kekal darinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi yang dimaksud dengan hukum dalam definisi fiqh adalah status perbuatan mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal sehat), apakah perbuatannya wajib, mandub (sunnah), haram, makruh, atau mubah. Atau apakah perbuatannya itu sah, atau batal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ungkapan hukum-hukum syar’i menunjukkan bahwa hukum tersebut dinisbatkan kepada syara’ atau diambil darinya sehingga hukum akal (logika), seperti: satu adalah separuh dari dua, atau semua lebih besar dari sebagian, tidak termasuk dalam definisi, karena ia bukan hukum yang bersumber dari syariat. Begitu pula dengan hukum-hukum indrawi, seperti api itu panas membakar, dan hukum-hukum lain yang tidak berdasarkan syara’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilmu fiqh tidak mensyaratkan pengetahuan tentang seluruh hukum-hukum syar’i, begitu juga untuk menjadi faqih (ahli fiqh), cukup baginya mengetahui sebagiannya saja asal ia memiliki kemampuan istinbath, yaitu kemampuan mengeluarkan kesimpulan hukum dari teks-teks dalil melalui penelitian dan metode tertentu yang dibenarkan syari’at.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum-hukum syar’i dalam fiqh juga harus bersifat amaliyyah (praktis) atau terkait langsung dengan perbuatan mukallaf, seperti ibadahnya, atau muamalahnya. Jadi menurut definisi ini hukum-hukum syar’i yang bersifat i’tiqadiyyah (keyakinan) atau ilmu tentang yang ghaib seperti dzat Allah, sifat-sifat-Nya, dan hari akhir, bukan termasuk ilmu fiqh, karena ia tidak berkaitan dengan tata cara beramal, dan dibahas dalam ilmu tauhid (aqidah).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah ini juga harus diperoleh dari dalil-dalil rinci melalui proses penelitian mendalam terhadap dalil-dalil tersebut. Berarti ilmu Allah atau ilmu Rasul-Nya tentang hukum-hukum ini tidak termasuk dalam definisi, karena ilmu Allah berdiri sendiri tanpa penelitian, bahkan Dialah Pembuat hukum-hukum tersebut, sedangkan ilmu Rasulullah saw diperoleh dari wahyu, bukan dari kajian dalil. Demikian pula pengetahuan seseorang tentang hukum syar’i dengan mengikuti pendapat ulama, tidak termasuk ke dalam definisi ini, karena pengetahuannya tidak didapat dari kajian dan penelitian yang ia lakukan terhadap dalil-dalil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan contoh dalil yang terinci adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 278).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ayat ini adalah dalil rinci tentang haramnya riba berapa pun besarnya. Dinamakan rinci karena ia langsung berbicara pada pokok masalah yang bersifat praktis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ushul Fiqh sebagai disiplin ilmu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ushul Fiqh sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri didefinisikan oleh Al-Baidhawi, salah seorang ulama mazhab Syafi’i dengan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;معرفة دلائل الفقه إجمالا وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Memahami dalil-dalil fiqh secara global, bagaimana menggunakannya dalam menyimpulkan sebuah hukum fiqh (bagaimana berijtihad), serta apa syarat-syarat seorang mujtahid).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Definisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Contoh dalil yang bersifat global: dalil tentang sunnah sebagai hujjah (sumber hukum), dalil bahwa setiap perintah pada dasarnya menunjukkan sebuah kewajiban, setiap larangan berarti haram, bahwa sebuah ayat dengan lafazh umum berlaku untuk semua meskipun turunnya berkaitan dengan seseorang atau kasus tertentu, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang dimaksud dengan menggunakan dalil dengan benar misalnya: mengetahui mana hadits yang shahih mana yang tidak, mana dalil yang berbicara secara umum tentang suatu masalah dan mana yang menjelaskan maksudnya lebih rinci, mana ayat/hadits yang mengandung makna hakiki dan mana yang bermakna kiasan, bagaimana cara menganalogikan (mengkiaskan) suatu masalah yang belum diketahui hukumnya dengan masalah lain yang sudah ada dalil dan hukumnya, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian dibahas pula dalam ilmu ushul apa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid untuk dapat mengambil kesimpulan sebuah hukum dengan benar dari dalil-dalil Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali mendefinisikan ushul fiqh dengan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;العلم بالقواعد الكلية التي يتوصل بها إلى استنباط الأحكام الشرعية من أدلتها التفصيلية&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Ilmu tentang kaidah-kaidah umum yang dapat digunakan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalilnya yang terinci).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Definisi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaidah adalah patokan umum yang diberlakukan atas setiap bagian yang ada di bawahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Contoh kaidah umum:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الأصل في الأمر للوجوب&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Pada dasarnya setiap kalimat yang berbentuk perintah mengandung konsekuensi kewajiban) kecuali jika ada dalil lain yang menjelaskan maksud lain dari kalimat perintah tersebut. Misalnya perintah Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 43:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;((وآتوا الزكاة))&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(tunaikanlah zakat) menunjukkan kewajiban zakat karena setiap perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban dan tidak ada ayat lain ataupun hadits yang menyatakan hukum lain tentang zakat harta. Dalam contoh ini ayat tersebut adalah dalil rinci, sedangkan kaidah ushul di atas adalah dalil yang bersifat global yang dapat diberlakukan atas dalil-dalil rinci lain yang sejenis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dapat disimpulkan bahwa ilmu ushul fiqh adalah ilmu yang mempelajari sumber-sumber hukum Islam, dalil-dalil yang shahih yang menunjukkan kepada kita hukum Allah swt, apa syarat-syarat ijtihad, dan bagaimana metode berijtihad yang benar sesuai batasan-batasan syariat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Cakupan Ushul Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setiap disiplin ilmu pasti memiliki bahasan tertentu yang membedakannya dengan disiplin ilmu lain, demikian pula ushul fiqh, ia memiliki bahasan tertentu yang dapat kita ringkas menjadi 5 (lima) bagian utama:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol  style="font-family:arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kajian tentang adillah syar’iyyah (sumber-sumber hukum Islam) yang asasi (Al-Qur’an dan Sunnah) maupun turunan (Ijma’, Qiyas, Maslahat Mursalah, dan lain-lain).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum-hukum syar’i dan jenis-jenisnya, siapa saja yang mendapat beban kewajiban beribadah kepada Allah dan apa syarat-syaratnya, apa karakter beban tersebut sehingga ia layak menjadi beban yang membuktikan keadilan dan rahmat Allah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kajian bahasa Arab yang membahas bagaimana seorang mujtahid memahami lafaz kata, teks, makna tersurat, atau makna tersirat dari ayat Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw, bahwa sebuah ayat atau hadits dapat kita pahami maksudnya dengan benar jika kita memahami hubungannya dengan ayat atau hadits lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Metode yang benar dalam menyikapi dalil-dalil yang tampak seolah-olah saling bertentangan, dan bagaimana solusinya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ijtihad, syarat-syarat dan sifat-sifat mujtahid.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Tujuan Ushul Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;غاية أو ثمرة علم الأصول: الوصول إلى معرفة الأحكام الشرعية بالاستنباط&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ghayah (tujuan) dan tsamarah (buah) ilmu ushul adalah agar dapat melakukan istinbath hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil syar’i secara langsung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di samping itu ada manfaat lain dari ilmu ushul, di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol  style="font-family:arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengetahui apa dan bagaimana manhaj (metode) yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam beristinbath.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengetahui sebab-sebab ikhtilaf di antara para ulama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menumbuhkan rasa hormat dan adab terhadap para ulama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membentuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kemampuan di bidang fiqh secara benar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Sandaran Ushul Fiqh&lt;/strong&gt;1. Aqidah/Tauhid, karena keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah serta kedudukannya sebagai sumber hukum/dalil syar’i bersumber dari pengenalan dan keyakinan terhadap Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya yang suci, juga bersumber dari pengetahuan dan keyakinan terhadap kebenaran Muhammad Rasulullah saw, dan semua itu dibahas dalam ilmu tauhid.&lt;br /&gt;3. Bahasa Arab, karena Al-Quran dan Sunnah berbahasa Arab, maka untuk memahami maksud setiap kata atau kalimat di dalam Al-Quran dan Sunnah mutlak diperlukan pemahaman Bahasa Arab. Misalnya sebagian ulama mengatakan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الأمر يقتضي الفور&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Setiap perintah mengharuskan pelaksanaan secara langsung tanpa ditunda). Dalil kaidah ini adalah bahasa, karena para ahli bahasa mengatakan: jika seorang majikan berkata kepada pelayannya: “Ambilkan saya air minum!” lalu pelayan itu menunda mengambilnya, maka ia pantas dicela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Al-Quran dan Sunnah, misalnya kaidah ushul:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;الأصل في الأمر للوجوب&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(setiap perintah pada dasarnya berarti kewajiban) dalilnya adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu merasa takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur: 63)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7. Akal, misalnya kaidah ushul:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div  class="arabic" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;إذا اختلف مجتهدان في حكم فأحدهما مخطئ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Jika dua orang mujtahid berseberangan dalam menghukumi suatu masalah, maka salah satunya pasti salah) dalilnya adalah logika, karena akal menyatakan bahwa kebenaran dua hal yang bertentangan adalah sebuah kemustahilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Mempelajari Ushul Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al-Amidi dalam bukunya Al-Ihkam mengatakan: “Tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah swt kecuali dengan ilmu ushul ini. Karena seorang mukallaf adalah awam atau bukan awam (’alim). Jika ia awam maka wajib baginya untuk bertanya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. (Al-Anbiya: 7)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan pertanyaan itu pasti bermuara kepada ulama, karena tidak boleh terjadi siklus. Jika mukallaf seorang ‘alim, maka ia tidak bisa mengetahui hukum Allah kecuali dengan jalan tertentu yang dibenarkan, sebab tidak boleh memutuskan hukum dengan hawa nafsu, dan jalan itu adalah ushul fiqh. Tetapi mengetahui dalil setiap hukum tidak diwajibkan atas semua orang, karena telah dibuka pintu untuk meminta fatwa. Hal ini menunjukkan bahwa menguasai ilmu ushul bukanlah fardhu ‘ain, tetapi fardhu kifayah, wallahu a’lam.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan Ushul Fiqh Dengan Fiqh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pembahasan ilmu fiqh berkisar tentang hukum-hukum syar’i yang langsung berkaitan dengan amaliyah seorang hamba seperti ibadahnya, muamalahnya,…, apakah hukumnya wajib, sunnah, makruh, haram, ataukah mubah berdasarkan dalil-dalil yang rinci.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan ushul fiqh berkisar tentang penjelasan metode seorang mujtahid dalam menyimpulkan hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil yang bersifat global, apa karakteristik dan konsekuensi dari setiap dalil, mana dalil yang benar dan kuat dan mana dalil yang lemah, siapa orang yang mampu berijtihad, dan apa syarat-syaratnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perumpamaan ushul fiqh dibandingkan dengan fiqh seperti posisi ilmu nahwu terhadap kemampuan bicara dan menulis dalam bahasa Arab, ilmu nahwu adalah kaidah yang menjaga lisan dan tulisan seseorang dari kesalahan berbahasa, sebagaimana ilmu ushul fiqh menjaga seorang ulama/mujtahid dari kesalahan dalam menyimpulkan sebuah hukum fiqh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By. Dakwatuna.Com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-3630222163770698963?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/3630222163770698963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=3630222163770698963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/3630222163770698963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/3630222163770698963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/07/ushul-fiqih.html' title='Ushul Fiqih'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-7564060818278553467</id><published>2008-07-05T17:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T17:42:04.822-07:00</updated><title type='text'>7 Proyek Amal Islami</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Seluruh teori kesuksesan yang ditulis dan dikembangkan masyarakat modern bermuara pada satu kata, yaitu amal atau kerja. Kerja dan terus kerja tanpa kenal lelah. &lt;em&gt;Never give up&lt;/em&gt; (jangan pernah menyerah). Kemudian lahirlah penemuan-penemuan yang spektakuler. Penemuan listrik, atom, nuklir, pesawat terbang, telepon, mobil, dan lain-lain. Seluruh peradaban modern dibangun atas teori ini. Mereka sangat ahli tentang kehidupan dunia. Dan kesuksesan yang mereka kejar juga hanya kesuksesan di dunia. &lt;em&gt;“Mereka Hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” &lt;/em&gt;(Ar-Ruum: 7)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Islam tidak pernah menafikan seluruh karya positif manusia. Tetapi yang disayangkan adalah ketika mereka lalai dan tidak beriman pada prinsip dan pedoman hidup Al-Qur’an, yang sengaja diturunkan Allah untuk manusia. &lt;em&gt;‘Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” &lt;/em&gt;(Al-Kahfi: 103-15)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Islam memiliki teori dan konsep kesuksesan yang lebih lengkap dan sempurna. Konsep amal shalih, bukan sekedar kerja, tetapi kerja yang dilandasi keimanan, keikhlasan dan ilmu yang benar. Kerja yang menembus batas-batas kebendaan duniawi, jauh menuju wilayah tanpa batas, orientasi ukhrawi. Oleh karena itu Imam Syafi’i mengomentari kandungan surat Al-Ashr, ” Kalau saja Allah hanya menurunkan surat ini, maka cukuplah (untuk dijadikan pedoman bagi manusia).”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi umat Islam yang ingin sukses di dunia dan akhirat, maka mereka harus terus menerus beramal shalih. Apalagi jika diukur dengan batas waktu atau umur yang disediakan Allah sangat terbatas. Sehingga mereka harus memprioritaskan waktunya hanya untuk amal shalih saja. Bahkan amal shalih itu sendiri ada tingkatan-tingkatannya. Dalam hukum Islam dikenal lima macam hukum, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Sehingga umat Islam harus berupaya keras untuk selalu dalam ruang lingkup wajib dan sunnah saja, minimal mubah, tetapi jangan berlebihan pada yang mubah. Dan ketika jatuh pada batas makruh dan harus, disana masih ada kesempatan bagi umat Islam, yaitu istighfar dan bertaubat. Jangan putus asa!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan puncak amal shalih adalah jihad, baik jihad dakwah maupun jihad perang, maka berbahagialah orang-orang beriman yang masuk wilayah ini. Inilah proyek amal islami yang harus menjadi konsens seluruh gerakan Islam, ormas Islam dan lembaga-lembaga keislaman. Ada urutan amal proyek amal islami. Dan amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Seperti yang Allah swt. firmankan, &lt;em&gt;“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” &lt;/em&gt;(At-Taubah: 105)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Maraatib Al-‘amal (Grand Desain Proyek Amal Islami)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada 7 langkah Grand Desain Proyek Amal Islami yang harus menjadi acuan gerakan Islam, yaitu: &lt;em&gt;Islaahun nafs&lt;/em&gt; (reformasi diri), &lt;em&gt;takwiin baitil muslim&lt;/em&gt; (membentuk keluarga islami), &lt;em&gt;irsyaadul mujtama&lt;/em&gt; (penyadaran masyarakat), &lt;em&gt;tahrirul wathan&lt;/em&gt; (memerdekakan negeri), &lt;em&gt;ishlahul hukumah&lt;/em&gt;&lt;em&gt;i’aadah al-kiyaan ad-dauli lillummah al-islamiyah&lt;/em&gt; (mengembalikan peran umat Islam dalam percaturan internasional), dan &lt;em&gt;ustaadiyatul aalam&lt;/em&gt; (menjadi pemimpin dunia). (reformasi pemerintahan), &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;1. &lt;em&gt;Ishlaahun      nafs&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; sehingga      menjadi &lt;em&gt;qawiyyul jism&lt;/em&gt; (kuat fisik), &lt;em&gt;matiinul khuluq&lt;/em&gt; (kokoh      akhlaq), &lt;em&gt;mutsaqqaful fikr&lt;/em&gt; (cerdas wawasan), &lt;em&gt;qaadiran ‘alal kasam&lt;/em&gt; (mampu berusaha), &lt;em&gt;saliimul aqidah&lt;/em&gt;&lt;em&gt;shahihul      ibadah&lt;/em&gt; (benar ibadah), &lt;em&gt;mujaahidan linafsihi&lt;/em&gt; (bersungguh-sungguh), &lt;em&gt;hariishan ‘alaa waqtihi&lt;/em&gt; (perhatian terhadap      waktu), &lt;em&gt;munazhzhaman fii syuunihi&lt;/em&gt; (tertib dalam urusan), dan &lt;em&gt;naafi’an      lighairihi&lt;/em&gt; (bermanfaat untuk orang lain). Ini adalah kewajiban      individu setiap anggota. (bersih aqidah), &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sepuluh proyek perbaikan diri itu sangat lengkap untuk setiap individu muslim dan dai muslim yang ingin terus meningkatkan kualitas dirinya. Karena mencakup semua nilai yang sangat penting dan dibutuhkan untuk menuju sukses dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Aqidah, ibadah, akhlak, pemikiran, fisik, usaha, manajemen kegiatan, manajemen waktu, keseriusan, dan memberi orientasi manfaat. Konsep ini lebih lengkap dari setiap konsep pengembangan diri yang digagas dan dilakukan oleh pakar modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Segala konsep perbaikan harus dimulai dari diri sendiri, &lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” &lt;/em&gt;(Ar-Ra’du: 11)&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Dan motor perubahan dalam diri adalah hati, &lt;em&gt;“Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada segumpal darah, jika baik maka seluruhnya baik, dan jika buruk, maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” &lt;/em&gt;(Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Takwiin baitil muslim&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;dengan cara mengarahkan keluarganya agar menghormati fikrah, menjaga adab Islam dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam mencari istri dan melaksanakan hak dan kewajibannya, baik dalam mendidik anak dan khadimah serta membentuk mereka sesuai prinsip-prinsip Islam. Ini juga kewajiban setiap anggota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keluarga adalah lembaga yang sangat strategis dalam Islam, begitu strategisnya sampai Al-Qur’an dan Sunnah, dua sumber ajaran Islam memberikan porsi pembahasan tentang keluarga yang begitu besar. Surat-surat An-Nisaa’, An-Nuur, Al-Ahzaab, At-Thalaq begitu sarat membahas detail-detail aturan keluarga dan pola hubungan antara pria dan wanita. Begitu juga surat-surat dan ayat-ayat lainnya tidak pernah lepas dari sentuhan terhadap aspek pembahasan keluarga. Bahkan lebih dari itu, ada beberapa surat yang langsung menceritakan suatu keluarga dan diabadikan sebagai nama surat, seperti surat Ali ‘Imran, Yusuf, Ibrahim, Maryam, dan Luqman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Begitu juga Sunnah Nabi &lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menerangkan lebih detail lagi tentang apa dan bagaimana membangun keluarga. Sunnah Nabi &lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menceritakan tentang keluarga Nabi &lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, keluarga teladan yang harus dicontoh oleh setiap muslim. Sunnah Nabi &lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; membahas pola hubungan antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara keluarga dengan kerabat dan tetangga. Tidak salah kalau Islam disebut &lt;em&gt;dinul usrah.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Pembentukan keluarga muslim menjadi proyek kedua amal islami yang harus diperioritaskan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;3. &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Irsyaadul Mujtama&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;dengan menyebarkan dakwah kebaikan kepada masyarakat, memerangi kehinaan dan kemungkaran, mendorong kemuliaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan berlomba melaksanakan kebaikan, mengarahkan opini umum agar berfihak pada fikrah Islam, dan senantiasa mewarnai kehidupan umum. Ini adalah kewajiban anggota dan jamaah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berdakwah ke masyarakat memiliki dimensi yang sangat luas dan kompleks. Jika kita melihat masyarakat Indonesia berarti harus memperhatikan keragaman budaya, status sosial, pendidikan, bahasa, usia, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada 3 pertimbangan utama jika ingin sukses berdakwah di tengah masyarakat, yaitu pertama: &lt;em&gt;shidqul ma’lumat&lt;/em&gt; (benarnya ilmu dan informasi yang disampaikan). Sampai sekarang lembaga Islam dan tokoh-tokoh islam yang bergerak di bidang dakwah masih banyak kesalahan dalam menyampaikan ilmu dan informasi, termasuk ilmu yang sangat mendasar seperti salah dalam membaca dan menafsirkan Al-Qur’an, salah dalam menukil hadits dan menerangkan derajat hadits. Banyak mubaligh dan penceramah yang masih menyebarkan hadits-hadits dhaif bahkan palsu dalam ceramahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lebih parah lagi, jika lembaga yang menamakan Islam itu adalah lembaga dakwah yang menyimpang, baik dari aspek aqidah, ibadah, fikrah maupun manhaj. Maka sejatinya, lembaga semacam ini, bukan menjadi lembaga dakwah Islam, tetapi obyek dakwah dan &lt;em&gt;irsyaadul mujtama&lt;/em&gt; .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua, &lt;em&gt;tanasub lissaami’&lt;/em&gt; (materi dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan pendengar atau obyek dakwah). Oleh karenannya dalam berdakwah di tengah masyarakat yang kompleks harus memperhatikan Fiqih Dakwah dan Fiqih Waqi. Berdakwah dikalangan mahasiswa dan pelajar berbeda dengan berdakwah di kalangan karyawan dan profesional, berdakwah di tengah masyarakat tradisional berbeda dengan berdakwah di masyarakat modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketiga, &lt;em&gt;al-usluub al-jayyid&lt;/em&gt; (metodologi yang menarik). Di era modern ini sangat memperhatikan kemasan, retorika, keindahan dan penampilan, sehingga bagi para aktivis dakwah harus memperhatikan aspek ini agar dakwahnya tidak ditinggalkan oleh orang. Dan Islam tidak menolak segala hal yang terkait dengan keindahan dan penampilan yang menarik. Namun demikian Islam tetap sangat menitikberatkan aspek keikhlasan dan nilai. &lt;em&gt;Husnul bidho’ah muqaddamun min husnid di’aayah &lt;/em&gt;(barang dagangan yang baik lebih diutamakan dari promosi yang menarik).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Tahriirul      wathan&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;dengan      membersihkannya dari setiap kekuasaan asing-tidak islami- baik politik,      ekonomi maupun moral.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Inilah problem dunia Islam sekarang, kekuasaan asing begitu sangat dominan. Di Indonesia misalnya, kekuasaan multinasional menjarah dan mengambil kekayaan negeri kita dengan dalih telah melakukan kesepakatan secara legal formal. Sementara pemerintah Indonesia begitu sangat lemah di mata asing, mereka tidak memiliki dirinya sendiri dan tidak memiliki harga diri, padahal secara mayoritas masyarakat telah mengamanahkan kepemimpinan kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melihat realitas dominasi asing di negeri yang sangat besar dan kaya raya ini maka bangsa Indonesia harus berjuang kembali untuk meraih harga dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki kehormatan dimata asing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;5. &lt;em&gt;Ishlaahul      hukumah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; sehingga benar-benar sesuai dengan nilai Islam, dengan demikian pemerintah akan menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat dan bekerja untuk kemaslahatannya. Dan pemerintah Islam yaitu dimana anggotanya muslim menjalankan kewajiban Islam tidak terbuka dalam bermaksiat dan menjalankan hukum Islam dan ajarannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Harakah Islam sekarang sudah masuk pada tahapan  &lt;em&gt;musyarakah &lt;/em&gt;(partisipasi)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;dalam pemerintahan. &lt;em&gt;Musyarakah&lt;/em&gt; ini dilakukan harus dalam konteks &lt;em&gt;ishlahuul hukumah&lt;/em&gt; dan berpartisipasi dalam kebaikan dan ketakwaan bukan ikut-ikutan mengambil kesempatan rusaknya pemerintah. Terutama dalam hal pengelolaan harta umat, maka harokah Islam dan seluruh aktivisnya harus amanah dan transparan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;6. &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;I’aadah      al-kiyaan ad-dauli lil ummah al-islamiyah&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;dengan memerdekakan tanah air, mengembalikan kejayaan, mendekatkan budaya dan menyatukan kalimatnya. Semua itu dilakukan sehingga dapat mengembalikan sistem khilafah yang hilang dan kesatuan yang diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Khilafah Islam harus menjadi cita-cita bersama umat Islam dan semuanya harus bersatu dalam mewujudkannya. Maka disinilah bertemu antara &lt;em&gt;iradah rabbaniyah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ikhtiyar basyariyah. &lt;/em&gt;Namun cita-cita khilafah Islam tidak berhenti hanya pada tataran slogan dan retorika, tetapi khilafah Islam adalah sasaran akhir dari seluruh tahapan perjuangan yang dilakukan harakah Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;7. &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ustadziyaatul      ‘aalam&lt;/strong&gt; &lt;/em&gt;dengan      menyebarkan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia, “&lt;em&gt;Supaya jangan ada      fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” &lt;/em&gt;(Al-Anfaal: 39)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;“Dan Allah      tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya.” &lt;/em&gt;(At-Taubah: 32)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan akhir dari seluruh &lt;em&gt;masyruu’ islami&lt;/em&gt; adalah bahwa harokah Islam menjadi guru dunia. Manusia tunduk dan patuh pada Islam, baik sukarela maupun terpaksa. “&lt;em&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” &lt;/em&gt;(Al-Maa-idah: 3)&lt;em&gt;.” Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.” &lt;/em&gt;(An-Nashr: 1-3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By &lt;strong&gt;dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-7564060818278553467?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/7564060818278553467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=7564060818278553467' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7564060818278553467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7564060818278553467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/07/7-proyek-amal-islami.html' title='7 Proyek Amal Islami'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-2991682896156370198</id><published>2008-06-15T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-06-15T05:33:46.492-07:00</updated><title type='text'>Maulid Dan Karakteristik Umat Muhammad</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Allah swt. berfirman, &lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt; (Al-Ahzab:21)&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Maulid&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sekarang berada di bulan Rabi’ul Awwal, bulan dimana Nabi Muhammad saw. dilahirkan. Karena itu juga bulan ini sering disebut dengan bulan maulid atau maulud. Banyak negeri kaum muslimin yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw., tak terkecuali di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejarah perayaan maulid Nabi Muhammad saw. dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimid (keturunan dari Fatimah Az-Zahrah, putri Nabi Muhammad saw.). Shalahuddin Al-Ayyubi (1137 M - 1193 M), panglima perang waktu itu, mengusulkan kepada khalifah agar mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Tujuannya untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Salibis. Hasilnya? Semangat jihad umat Islam menggelora. Di tahun 1187 M, Shalahuddin sendiri yang membawa pasukannya masuk kota Yerusalem dan membebaskan Al-Aqsha dari cengkraman musuh-musuh Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita tidak ingin mempertentangkan antara kelompok yang mengatakan peringatan maulid adalah ritual yang mesti dijalankan, dengan kelompok lain yang menganggap peringatan maulid sebagai perbuatan yang mengada-ada atau bid’ah, karena tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, ataupun tabi’it tabi’in.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terlepas dari dua pendapat di atas, yang lebih penting untuk kita renungkan adalah bagaimana umat Islam dewasa ini bisa meneladani Nabinya dalam kehidupan. Atau pertanyaannya: adakah karakter umat Muhammad sudah dimiliki oleh kita yang mengaku umatnya? Apakah dengan kondisi yang seperti sekarang ini kita yakin kelak akan diakui oleh Beliau sebagai umatnya yang berhak mendapat syafa’atnya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudahkah sifat-sifat yang tersurat dalam ayat 29 surat Fath sudah menjadi karakter diri kita?&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt;&lt;em&gt;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.&lt;/em&gt; (Fath:29)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Karakter Umat Muhammad &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertama, keras dan tegas terhadap orang-orang kafir (asyiddau ’alal kuffar).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlu kita dudukkan dengan jernih tentang klasifikasi orang kafir. Dalam pandangan Islam orang kafir ada dua macam. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, kafir harbi, yaitu orang kafir yang memusuhi dan memerangi ummat Islam. Kelompok pertama ini wajib diperangi. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kafir zhimmi, yaitu orang kafir yang terikat janji perdamaian dan hidup bersanding dengan umat Islam dengan damai. Mereka ini harus dilindungi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keras dan tegas di sini ditujukan kepada orang kafir yang memusuhi dan memerangi Umat Islam. Sikap keras dan tegas juga ditujukan terhadap ajaran, budaya, dan pemikiran mereka. Maklum, dewasa ini tak sedikit umat Islam bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir, namun bermesraan dengan ajarannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dulu kita bangga dengan jumlah umat Islam Indonesia 99%. Namun jumlah itu terus berkurang dan berkurang. Sekarang tercatat tinggal 87%. Itu pun jumlah secara kuantitas. Entah berapa persen jumlah umat Islam dari sisi kualitas. Penurunan jumlah itu dikarenakan umat tidak sadar bahwa mereka digempur &lt;em&gt;ghazful fikri&lt;/em&gt; atau perang budaya. Padahal invasi pemikiran justru akibatnya sangat berbahaya. Sebab, ini perang dimana yang diperangi tidak merasa diperangi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada contoh lain. Sebagian umat Islam, apakah itu akademisi atau pelaku kebijakan publik, merasa lebih bangga ketika merujuk pada referensi orang kafir. Padahal, itu justru menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang kehancuran. Fakta kehancuran ekonomi umat Islam akibat mengadopsi sistem ekonomi ribawi milik kaum kapitalis sudah terjadi. Kekisruhan sosial akibat penerapan sistem politik sekular yang memisahkan agama dan negara juga telah melahirkan pemimpin-pemimpin tak bermoral yang tak pantas menjadi pemimpin yang diikuti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kondisi seperti itulah yang menjadikan umat lain bersorak sorai. Tujuan mereka tercapai. Umat Islam telah jauh dari ajarannya. Kata Samuel Zwimmer, ”Kalian tidak perlu capek-capek mengeluarkan ummat Islam dari agamanya dan pindah ke agama kita. Cukuplah kalian jauhkan umat Islam dari ajaran agamanya sehingga mereka tidak lagi bangga dengan agamanya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Karakter kedua, berkasih sayang terhadap sesama umat Islam (ruhama’u bainal muslimin).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap yang bersyahadat &lt;em&gt;laa ilaaha illallah wa muhammad rasulullah&lt;/em&gt; adalah saudara. Persaudaraan Islam ini tidak dibatasi oleh perbedaan letak teritorial, bahasa, suku, kelompok, partai, golongan, atau madzhab. Allah swt. Berfirman, ”&lt;em&gt;Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” &lt;/em&gt;(Al-Hujurat: 10).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perumpamaan seorang muslim satu dengan yang lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, sesama muslim wajib saling asah, asih, asuh. Saling menyayangi, mencintai, melindungi, menutupi aib, tidak menghina, mencemooh, memfitnah, apalagi menumpahkan darah sesamanya. Rasulullah saw bersabda, ”&lt;em&gt;Janganlah kalian saling mendengki, membenci, memutus persaudaraan. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.&lt;/em&gt;” (Shahih Bukhari, Bab Haramnya Hasud, Jilid 12, Hal. 415).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umat Islam di manapun berada berhajat untuk bersatu dan saling mendukung. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengingatkan kita, ”&lt;em&gt;Jangan sampai berbedaan madzhab atau kelompok menjadikan umat Islam terpecah belah menjadi umat sunni atau umat syi’i, misalkan. Bukankah Allah swt. memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah?” &lt;/em&gt;Beliau menambahkan,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;“&lt;em&gt;Kalau kita sekarang sebagai umat Islam terus membangun komunikasi dengan umat lain, mengapa kita tidak membangun komunikasi di antara internal umat Islam?”&lt;/em&gt; (Majalah Al Mujtama’ edisi Februari 2007).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saling berkasih sayang dan menjaga persatuan di antara elemen umat Islam tidaklah menjadi slogan semata. Itu harus diperjuangkan agar menjadi wujud dalam kehidupan umat Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Karakter ketiga, senantiasa rukuk dan sujud (rukka’an sujjada).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umat Muhammad senantiasa menjaga shalat dengan baik. Menunaikannya dengan khusyu’. Menghayati maknanya. Mereka melaksanakannya sesuai rukun dan syaratnya. Dikerjakan di awal waktu dengan berjama’ah. Seluruh anggota badan mereka ikut serta shalat: kalbu, pikiran, tangan, kaki, mata dan telinga serta anggota badan yang lain bersujud dihadapan Allah swt. Dengan demikian ia akan terjaga dari kemaksiatan dan kemungkaran di luar shalat. Bagaimana mungkin kalbu akan mendengki terhadap sesama, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin pikiran terbersit hal yang kotor, padahal sebelumnya bersujud. Bagaimana mungkin tangan mengambil hak orang lain atau melakukan korupsi, padahal sebelumnya bersujud. Kaki, mata, telinga, dan anggota badan yang lain juga demikian. &lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itulah rahasia firman Allah swt, ”&lt;em&gt;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” &lt;/em&gt;(Al-Ankabut: 45).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Shalat yang benar juga akan tercermin dari perilaku sosial pelakunya, yaitu terlihat dari sejauh mana kepedulian terhadap sesama dan memberikan manfaat untuk orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Karakter keempat, senantiasa mengharap ridha Allah swt.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orientasi hidup umat Muhammad adalah untuk Allah swt. semata. Ia paham betul fungsi ia dihidupkan di muka bumi, adalah untuk pengabdian total kepada Tuhan semesta alam. Ia siap diperintah dengan aturan Allah swt. Ia rela meninggalkan yang dilarang karena Allah swt. semata. Bahkan, sikap ia yang keras terhadap orang kafir, atau berkasih sayang terhadap sesama muslim, atau tunduk patuh sujud, adalah karena dilandasi mencari keridhaan Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam arti kata, kita membenci seseorang karena Allah swt. Kita berkasih sayang dengan sesama muslim karena dipadukan cinta kepada Allah swt. Sebab, boleh jadi kendala persaudaraan Islam adalah karena adanya kepentingan dunia: keinginan jabatan atau karena sekedar beda kelompok. Yang bisa menyatukan langkah dan persatuan umat Islam adalah tujuan untuk menggapai ridho Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam dzikir al ma’tsurat yang diajarkan Rasulullah saw. sering kita lantunkan: ”&lt;em&gt;Saya ridha Allah sebagai Tuhan-ku, Islam sebagai agama-ku, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-ku.” &lt;/em&gt;(HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi. Hadits shahih).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Karakter kelima, disegani teman dan ditakuti lawan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karakter umat Muhammad adalah sejuk dipandang, kuat berwibawa, laksana pohon rindang nan banyak buahnya. Sekaligus ditakuti oleh lawan-lawannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu umat Islam seharusnya kuat dalam segala hal: kuat dalam komitmen terhadap agamanya, kuat pendukungnya, kuat dalam percaturan kehidupan dalam segala dimensinya.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt;”&lt;em&gt;Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”&lt;/em&gt;  (Al Fath: 29).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itulah karakteristik umat Muhammad. Dan peringatan maulid yang dilaksanakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia mestinya tidaklah sekadar tradisi tahunan tanpa ruh dan jiwa. Namun momentum maulid bisa dijadikan sebagai tonggak untuk meneladani Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupan. Juga semangat peningkatan umat Islam untuk memiliki dan menjaga karakter umat Muhammad agar kita di &lt;em&gt;yaumil qiyamah&lt;/em&gt; kelak diakui Beliau sebagai umatnya. Hanya dengan begitu kita berhak mendapat syafa’atnya. &lt;em&gt;Insya Allah!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-2991682896156370198?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/2991682896156370198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=2991682896156370198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2991682896156370198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2991682896156370198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/06/maulid-dan-karakteristik-umat-muhammad.html' title='Maulid Dan Karakteristik Umat Muhammad'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-2897284296526233086</id><published>2008-06-14T05:39:00.000-07:00</published><updated>2008-06-14T05:43:18.783-07:00</updated><title type='text'>Orang Beriman Itu Bersaudara</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;S&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;esungguhnya o&lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;rang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan &lt;/em&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;bertakwala&lt;/em&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;h &lt;/em&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;kepada&lt;/em&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt; Allah, supaya kamu mendapat rahmat&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-style: italic;"&gt;.” (Al-Hujurat: 10)&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Ayat ini dinamakan dengan &lt;em&gt;ayatul ukhuwwah&lt;/em&gt; karena berbicara tentang konsepsi Qur’ani yang baku bahwa setiap orang yang beriman terhadap orang lain yang seakidah dengannya adalah bersaudara. Konsep ukhuwwah yang berlandaskan iman ini tepat berada di pertengahan surah Al-Hujurat yang dinamakan juga dengan surah ‘Al-Adab’ karena isi kandungannya yang sarat dengan pembicaraan tentang adab dalam maknanya yang luas; adab dengan Allah, adab dengan RasulNya, adab dengan diri sendiri dan adab dengan sesama orang yang beriman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya perbedaan adalah sunnatullah yang tidak akan berubah. Di sinilah iman yang berbicara menyikapi perbedaan tersebut dalam bingkai akidah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara redaksional, keterkaitan dan hubungan antar orang yang beriman begitu erat digambarkan dalam ayat di atas karena menggunakan istilah ‘ikhwah’ bukan ikhwan yang secara bahasa ikhwah bermakna saudara sekandung yang mempunyai hubungan dan ikatan darah keturunan. Seolah-olah mengisyaratkan sebuah makna yang dalam bahwa ikatan ideologis sama kuatnya dengan ikatan nasab, bahkan seharusnya lebih besar dari itu. Di sini mengandung arti bahwa keimanan seseorang masih harus diuji dengan ujian persatuan dan persaudaraan tanpa memandang ras, suku, dan bangsa. Rasulullah mengingatkan eratnya hubungan antar orang beriman dengan tamsil yang indah, “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (Bukhari &amp;amp; Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik perhatian di sini, pembicaraan Allah tentang kesatuan umat yang dominan dalam surah ini didahului dengan perintah untuk mendahulukan Allah dan RasulNya atas selain keduanya dalam semua aspek. &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului atas (aturan) Allah dan RasulNya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;.” (Al-Hujurat: 1)&lt;/span&gt;. Hal ini menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sangat menginginkan kebaikan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Untuk itu, Allah mencabut dari dalam hati mereka sifat kufur, fasik, dan kemaksiatan sehingga mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan inilah sesungguhnya kenikmatan dan keutamaan yang tidak terhingga bagi setiap muslim yang tercermin dalam ungkapan Allah “Fadhlan minallah wani’mah”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sayyid Quthb menyimpulkan berdasarkan ayat di atas bahwa taat kepada Allah dan RasulNya merupakan benteng yang kokoh untuk menghindari perpecahan dan pertikaian yang akan merapuhkan kekuatan dan persatuan umat. Karena dengan mendahulukan taat kepada Allah dan RasulNya, maka akan lenyaplah benih-benih pertikaian yang kebanyakannya berawal dari perbedaan cara pandang yang bersumber dari hawa nafsu yang diperturutkan. Sehingga mereka masuk ke dalam kancah peperangan dalam keadaan menyerahkan segala urusan secara totalitas kepada Allah swt. Inilah faktor yang sangat fundamental bagi kebaikan generasi terbaik dari umat ini sepanjang sejarah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sini jelas, konsekuensi dari ukhuwwah seperti yang ditegaskan oleh ayat ukhuwah di atas adalah adanya sikap saling menyayangi, memberikan kedamaaian, keselamatan, saling tolong menolong, dan menjaga persatuan. Inilah prinsip yang harus ditegakkan dalam sebuah masyarakat muslim. Sedangkan perselisihan dan perpecahan merupakan pengecualian dari sebuah ukhuwah yang harus dihindari. Maka memerangi kelompok yang merusak persatuan dan ukhuwah umat adalah dibenarkan, bahkan diperintahkan dalam rangka melakukan ishlah dan mengembalikan mereka ke dalam barisan kesatuan ini. “Maka perangilah kelompok yang melampaui batas sehingga mereka kembali kepada aturan Allah swt.” (Al-Hujurat: 9)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal ini, Rasulullah saw. memberi motivasi akan pentingnya menjaga keutuhan umat dengan menjaga persaudaraan diantara mereka, “Sesungguhnya kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit.” (Imam Ahmad). Nash hadits yang mirip dengan ini adalah sabda Rasulullah yang bermaksud, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kelembutan dan kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota sakit, maka seluruh anggota turut merasakannya dengan tetap berjaga dan demam.” (Muslim &amp;amp; Ahmad). Dalam riwayat Muslim juga dinyatakan, “Orang-orang yang berlaku adil akan berada di atas mimbar yang bercahaya di hari kiamat. Yaitu mereka yang berlaku adil dalam urusan orang-orang muslim dan tidak berlaku dzalim.” Kemudian Rasulullah membaca ayat ukhuwah di atas. Maka ayat ini merupakan &lt;em&gt;ilat&lt;/em&gt; dari perintah untuk melakukan ishlah terhadap sesama muslim untuk memelihara dan membangun ukhuwah antar mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tataran kaidah ilmu Al-Qur’an, meskipun ayat ini turun karena sebab tertentu, namun ayat ini merupakan ayat muhkam yang harus dijadikan sebagai kaidah umum yang bersifat universal yang akan tetap berlaku bagi setiap kejadian di tengah-tengah komunitas kaum beriman, karena iman dan ukhuwwah merupakan harga yang sangat mahal, sampai Allah tetap menamakan mereka ‘&lt;strong&gt;orang yang beriman&lt;/strong&gt;‘ meskipun terjadi perselisihan, bahkan peperangan di antara dua golongan tersebut seperti yang ditegaskan dalam firmanNya, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9). Inilah realitas Qur’ani yang sangat mungkin terjadi pada siapapun dan kelompok manapun. Namun tetap Allah mengingatkan satu prinsip, yaitu ukhuwah dan persatuan umat merupakan modal untuk meraih rahmat Allah swt. seperti yang tercermin dari petikan ayat terakhir ‘La’allakum turhamun’ &lt;em&gt;supaya kamu mendapat rahmat&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang tips Qur’ani untuk memelihara dan menjaga keberlangsungan ukhuwwah. Di antaranya: pertama, siap menerima dan melakukan Ishlah (fa’ashlihu bayna akhawaikum). Kedua, menghindari kata-kata hinaan/olok-olokan (la yaskhar qaumun min qaumin). Ketiga, menghindari su’udz zhan (ijtanibu katsiran minadz dzan). Keempat, menghindari ghibah dan mencari-cari kesalahan (la tajassasu wala yaghtab ba’dhukum ba’dhan). Seluruh etika dan adab ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang senantiasa dipandu dan merujuk kepada barometer iman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya setan memang telah berputus asa dari membujuk dan menggoda manusia agar menyembahnya di jazirah Arab. Maka mereka akan senantiasa menyemai benih permusuhan dan pertikaian di antara orang-orang yang beriman. Maka ishlah harus dilakukan dengan cara apapun –meskipun menurut Syekh Sholih bin Al-Utsaimin– harus mengorbankan segalanya, karena hasil aktivitas ishlah itu selalu baik, dan itu demi menjaga kesatuan umat. “Wash-Shulhu Khair”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syekh Musthafa Masyhur dalam bukunya “jalan dakwah” mengingatkan betapa penting dan perlunya bersaudara karena Allah dalam konteks dakwah dan keumatan. Inilah yang pertama sekali Rasulullah lakukan ketika mempersaudarakan antara orang-orang muhajirin dan Anshor. Merekalah contoh teladan yang indah dan agung tentang cinta dan ikrar yang mengutamakan persaudaraannya lebih dari segalanya. &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;em style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;.” (Al-Hasyr: 9)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saatnya kita mulai melihat sejauh mana peran kita di dalam membangun dan memelihara kesatuan umat Islam. Jangan sampai kemudian kita justru menjadi pelopor atau provokator terjadinya perpecahan umat. Karena dakwah Islam adalah dakwah yang dibangun di atas prinsip persaudaraan sesuai. Dalam kamus generasi awal umat Islam, menjaga keutuhan dan kesatuan umat merupakan amal prioritas yang menduduki peringkat pertama dari amal-amal yang mereka lakukan. Dan sarananya adalah dengan memelihara, membina, dan memperkuat tali persaudaraan antar mereka yang sesungguhnya sejak awal telah diikat oleh Allah ketika seseorang menyatakan keIslamannya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 153); font-style: italic;font-size:85%;" &gt;By Dakwatuna.Com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-2897284296526233086?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/2897284296526233086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=2897284296526233086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2897284296526233086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2897284296526233086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/06/orang-beriman-itu-bersaudara.html' title='Orang Beriman Itu Bersaudara'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-2305810116489068440</id><published>2008-05-16T10:17:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T10:18:17.630-07:00</updated><title type='text'>Menuju Iman yang Sempurna</title><content type='html'>Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal shaleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah swt. menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal shaleh dalam surat Al-‘Ashr; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati agar mentaati kebenaran dan nasehat menasehati agar tetap sabar.”&lt;/em&gt; QS 103:1-3&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayat-ayat quraniah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap “khitab ilahi” (panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu disertai dengan perintah untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan dengan ibadah dan larangan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Iman yang &lt;em&gt;menshibghah&lt;/em&gt; -mewarnai- akal, hati dan jasad seorang mukmin niscaya ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Jadi seorang yang telah &lt;em&gt;tershibghah&lt;/em&gt; imannya, ia akan menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Allah berfirman;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?…”&lt;/em&gt; QS 6:122&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah Allah menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan keilmuan. Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi riel tidak saja bagi lingkungannya bahkan sampai pada peradaban dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah saw. menganalogikan seorang mukmin yang benar-benar memahami keislaman dan keimanannya seperti lebah. Lebah itu mempunyai sifat tidak pernah melakukan kerusakan, lihatlah ketika hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai bunga. Lebah selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk hidup yang berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitulah seharusnya muslim dan mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam. Melukiskan tinta emas kebaikan dalam kanvas kehidupan secara individu dalam semangat kebersamaan. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya dimiliki sertiap mukmin. Kepekaan terhadap apa saja yang sedang menimpa masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan berpuas diri dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat sekitarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Interaksi Sosial&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh seorang mukmin dalam ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona sosial yang sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan berdampak pada &lt;em&gt;‘atha ijtima’i &lt;/em&gt;(kontribusi sosial) dan keharmonisan social. Di sini, Nabi kita Muhammad saw. mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat yang sarat dengan nilai-nilai perbaikan diri. Di saat beliau bersabda; &lt;em&gt;“Takwalah kamu di manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya dan berinteraksilah pada manusia dengan akhlak yang hasan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita adalah adanya &lt;em&gt;hasaasiah&lt;/em&gt; (kepekaan) yang kuat terhadap permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perhatian dan fokus kita terhadap &lt;em&gt;bi’ah&lt;/em&gt; (lingkungan), baik yang berkaitan dengan lingkungan dakwah, lingkungan sosial, lingkungan pengajaran yang terjadi dalam tataran keluarga maupun masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita yang telah &lt;em&gt;tershibghah&lt;/em&gt; dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Bagaimana Rasulullah saw. melakukan hal ini dalam keluarga dan masyarakatnya. Beliau dengan gigih telah mempengaruhi pamannya, Abu Thalib untuk memeluk Islam sehingga detik-detik akhir hidup sang paman. Ia telah menyeru bani-bani Quraisy pada waktu itu seraya berkata di atas bukit shofa: &lt;em&gt;“Wahai Bani Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Bani ka’ab, selamatkanlah dirimu dari apai neraka….., wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka..”&lt;/em&gt; Imam Muslim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu juga, beliau telah terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum &lt;em&gt;nubuwwah&lt;/em&gt; -masa Kenabian- seperti berperan aktif dalam perang fijar; peperangan yang terjadi antara Quraisy bersama Kinanah dengan Ais Qailan, &lt;em&gt;Hilful Fudlul&lt;/em&gt;; kesepakatan untuk melindungi orang-orang yang terdhalimi dan pembangunan Ka’bah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sensitifitas Tinggi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karenanya seorang mukmin apalagi kader dakwah harus terlibat aktif dalam amal-amal kebaikan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakatnya. Baik yang bersentuhan dengan daur da’awi (peran dakwah keluarga), daur ta’limi (peran pengajaran) dan daur tarbawi (peran pembinaan). Janganlah seorang kader yang sibuk dengan perbaikan dirinya, akan tetapi mengabaikan dakwah keluarganya. Semangat berbisnis, lalu lupa mengajar dan membina anak-anaknya. Puas dengan kehebatannya, asyik dengan pesona dirinya, akan tetapi terlena dengan apa yang sedang terjadi di lingkungan keluarga. Bapak asyik dengan dakwah di luar, sementara anak nyimeng dan ngeganja. Coba kita perhatikan dan merenungkan kembali kembali firman Allah berikut ini;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” &lt;/em&gt; 64:14-15&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”&lt;/em&gt; 63:9&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”&lt;/em&gt; 66:6&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kepedulian Sosial&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Interaksi sosial kita yang berujung pada kepedulian sosial, mengharuskan kita untuk terlibat penuh dengan suatu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Hal ini bukan hanya dilakukan seorang mukmin atau bahkan kader dakwah di saat membutuhkan mereka dan ketika ada kepentingan. Akan tetapi kapanpun dan kondisi apapun seorang mukmin harus menebar pesona Islam. Ia bekerja dan berkarya sesuai arahan Rabbani. Seluruh waktu dan hidupnya agar bermanfat bagi manusia lain. Ia ingin menjadi salah satu dari kategori &lt;em&gt;qaumun ‘amaliyyun&lt;/em&gt; -kaum yang aktif bekerja- dan mendambakan identitas &lt;em&gt;mukminiin haqqan&lt;/em&gt; -mukmin sejati-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karenanya, seorang mukmin harus bisa berperan aktif dalam seluruh dimensi sosial. Baik dimensi da’awi yang mengharuskan dia sebagai cahaya di tengah masyarakatnya, yang mengharuskan dia membawa obor tanggungjawab amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai agen of changes. Dimensi ukhawi; yang mengharuskan dirinya mengkristalkan kembali makna &lt;em&gt;ta’aruf, tafaahum dan takaaful&lt;/em&gt; dalam kanvas ukhuwah Islamiah. Benar-benar menjadi kontributor dalam segala hal, apalagi yang bersentuhan langsung dengan fuqara, masakin dan al-aitam (yatim piatu). Rasulullah bersabda: “Ya Abu dzar, apabila kamu membikin sayur, perbanyak kuahnya dan perhatikan tetanggamu.” Imam Muslim&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah beriman seorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” &lt;/em&gt;Muttafaqun Alaih&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Saya dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini (beliau mengisyaratkan dengan kedekatan jari telunjuk dan tengah)&lt;/em&gt; Imam Al-Bukhari&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan dimensi &lt;em&gt;ta’limi wa tarbawi&lt;/em&gt; -pengajaran dan pengkaderan-; yang mengharuskannya berperan aktif dalam melakukan pengajaran dan pembinaan masyarakatnya. Sehingga masyarakat setempat menikmati pencerahan jiwa dan pemikiran. Mereka semakin dekat dengan nilai-nilai Islam dan akhirnya semangat mengimplementasikannya dalam ruang kepribadiannya dan lingkungan keluarganya. Allah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”&lt;/em&gt; 3:104&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”&lt;/em&gt; 62:2&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan peduli sosial, dilandasi iman yang hidup dan produktif dalam diri kita. Allahu a’lam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;By Dakwatuna.Com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-2305810116489068440?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/2305810116489068440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=2305810116489068440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2305810116489068440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/2305810116489068440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/05/menuju-iman-yang-sempurna.html' title='Menuju Iman yang Sempurna'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-7497212557718885410</id><published>2008-05-16T10:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T10:14:36.592-07:00</updated><title type='text'>Hidup Secara Syariat</title><content type='html'>&lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Islam sangat mendorong pemeluknya hidup bermasyarakat secara sehat. Islam mencela orang yang mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Untuk itu, Islam memberi rambu-rambu agar seorang muslim bisa hidup berdampingan dalam masyarakatnya dengan sehat tanpa merugikan satu sama lain. Berikut ini 20 rambu tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;1. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Saling memberi nasihat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Saling menasihati adalah salah satu bentuk kesetiaan seorang muslim kepada saudara muslimnya yang lain. Nasihat juga adalah bukti kesempurnaan dan lengkapnya keshalihan seseorang dalam beragama.&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Tamim Ad-Daari r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya agama (ad-din) itu an-nashihah.” Kami bertanya, “Nasihat bagi siapakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi para imam/ulama muslimin dan bagi orang-orang awam di antara kalian.” (Muslim no. 55)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Jabir bin Abdullah r.a. yang berkata, aku membai’at Rasulullah saw. untuk (mau) mendengar dan menaati (Islam). Lalu beliau mengajariku, “(Lakukanlah) apa yang dapat kamu lakukan dan (hendaknya) kamu menasihati kepada setiap muslim.” (Bukhari no. 7204)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Jadi, saat turun bermasyarakat seorang muslim senantiasa menggunakan kesempatan itu untuk saling menasihati. Pertama, saling mengingatkan untuk menjaga keikhlasan hanya untuk Allah swt. semata. Kedua, saling menasihati untuk membenarkan dan menyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Ketiga, saling mengingatkan untuk mengakui kebenaran Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, untuk taat pada setiap perintahnya, serta meneladani dan melanjutkan risalah &lt;span id="high_3" class="searchterm3"&gt;dakwah&lt;/span&gt;nya.&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Keempat, mengingatkan imam/ulama jika mereka menyimpang dan taat kepada mereka dalam kebenaran. Kelima, menasihati orang awam dalam bentuk membimbing mereka untuk memperoleh kemaslahatan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;2. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Jauhi Perbuatan Zalim&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dalam sebuah hadits qudsi, Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkata bahwa Allah swt. berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman it uharam di atanramu, maka janganlah kamu saling menzalimi.” (Muslim no. 2577)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Muslim (sejati) itu ialah yang dapat menyelamatkan muslim lain dari gangguan lidah dan tangannya.” (Muslim no. 41)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;3. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Berakhlak Mulia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a. berkata Rasulullah saw itu bukanlah seorang yang buruk perkataanya dan tidak berusaha untuk melakukan hal seperti itu. Bahkan Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya termasuk orang-orang pilihan di antaramu adalah yang paling bagus akhlaknya.” (Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2331)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abu Darda bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangannya bagi mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang bagus. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk tutur katanya dan jorok (cabul).” (Abu Dawud no. 4799 dan Turmudzi no. 2003)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kamu dan paling jauh tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak bicara tanpa manfaat, yang banyak bicara dibuat-buat, dan memenuhi mulutnya dengan segala macam perkataan (tak berbobot).” (Turmudzi no. 2018))&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;4. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Saling membantu dalam kebaikan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Seorang muslim hendaknya suka membantu sesamanya. Ini perintah Rasulullah saw. seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Umar, “Muslim itu saudara(nya) muslim. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya ke tangan musuh. Barangsiapa yang berkenan memenuhi hajat kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti memenuhi hajatnya. Barangsiapa melepaskan suatu kesulitan muslim, maka Allah akan melepaskan darinya salah satu kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) muslim, maka Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat.” (Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Abu Hurairah juga meriyaratkan hadits yang mirip. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang melepaskan suatu kesusahan seroang mukmin di antara berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya salah satu di antara berbagai kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang mendapatkan kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah itu akan selalu membantu hamba jika ia mau membantu saudaranya. Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju surga. Tidak ada suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah -Al-Qur’an-dan mereka mempelajari Al-Qur’an tersebut kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan mereka pun akan diliputi rahmat Allah serta mereka akan diliputi malaikan, bahkan Allah pun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk lain di sisi-Nya. Serta, barangsiapa yang menangguhkan amal ibadahnya, maka tidak akan dipercepat keturunannya.” (Muslim no. 2699)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;5. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Suka berkorban dan memberi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas itu ialah tangan yang memberi; sedangkan tangan yang di bawah ialah yang meminta-minta.” (Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Abdullah bin Umar juga mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda dalam khutbahnya, “Jauhilah olehmu sifat kikir. Sebab, orang-orang sebelum kamu itu hancur karena kikir. (Pemimpin mereka) memerintahkan mereka untuk kikir, lalu mereka pun kikir; ia memerintahkan untuk memutuskan hubungan (persaudaraan) lalu mereka pun memutuskan hubungan (persaudaraan); dan ia memerintahkannya untuk berbuat durhaka, mereka pun melakukan perbuatan durhaka,” (Abu Dawud no. 1698, Hakim no. 415, dan shahih al-jami’ no. 2675)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;6. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Mengatakan kebenaran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Seorang muslim selalu mengatakan hal yang benar. Meskipun perkataan itu akan pahit dirasakan karena mengenai dirinya sendiri atau berhadapan dengan penguasa. Abu Sa’id Al-Kudri r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. shalat bersama kami pada shalat ashar di siang hari. Lalu ia berdiri untuk berkhutbah. Tiada ia meninggalkan suatu berita tentang (dan untuk menuju) akhirat kecuali ia memberitahukannya kepada kami. Berita itu akan dihapal oleh orang yang menghapalkannya dan akan dilupakan oleh orang yang melupakannya. Dan di antara yang disabdakannya adalah, “Ingatlah, jangan sampai ada seorang pun terhalang oleh wibawa (kharisma) seseorang untuk mengatakan (dan memperjuangkan) yang hak jika ia mengetahuinya.” (Turmudzi no. 2191, Ibnu Majah no. 4007, Hakim no. 506, dan Silsilah Shahihah no. 168)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Zaid bin Abdullah bin Umar r.a. bercerita bahwa ada sejumlah orang yang berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita sungguh akan memasuki (menghadap) Sultan atau Amir kita. Maka kita (mesti) mengatakan kepada mereka apa yang berbeda dengan apa yang kita katakan jika kita keluar dari sisi mereka.” Lalu Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Kami menganggap yang seperti itu di masa Rasulullah saw. sebagai kemunafikan.” (Bukhari no. 7178)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Semoga kita bisa selalu istiqomah untuk mengatakan hal yang benar kepada siapapun sehingga kita tidak tergolong orang yang memiliki sifat munafik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;7. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Mengajak berbuat baik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Salah satu tujuan seorang muslim bergaul dengan masyarakat di sekitar dirinya adalah dalam rangka mengajak mereka untuk berbuat kebaikan. Dan ini adalah perintah Allah swt., “Hendaklah ada di antara kamu sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang perbuatan munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imrah: 110)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dan mengajak orang melakukan kebaikan sungguh besar pahalanya. Rasululllah saw. bersabda –seperti yang diterima dari Abu Sa’id Al-Kudri–, “Barangsiapa yang mengajak/menunjukkan kepada kebaikan, maka ia berhak mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang melakukannya.” (Muslim no. 1893)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan hadits serupa. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak berkurang dari pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa sebesar dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak berkurang dari dosa mereka sedikitpun.” (Muslim no. 2674)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;8. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Menjauhi perbuatan munkar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Di manapun seorang muslim berada, ia selalu punya energi untuk mencegah dirinya dan orang di sekitarnya dari melakukan perbuatan munkar. Abu Sa’id Al-Kudri mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak dapat, maka hendaknya ia mengubahnya dengan lidahnya; jika tidak dapat dengan itu, maka dengan hatinya, dan ini adalah keimanan yang paling rendah.” (Muslim no. 49)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Rasulullah saw. sangat melarang seorang muslim menjadi orang yang permisif dengan kemunkaran. ‘Ars bin Umairah Al-Kindi r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika suatu kesalahan/dosa diperbuat di buka bumi, maka orang yang menyaksikannya dan membencinya lalu mengingkarinya seperti orang yang tidak ada di situ –tidak mengetahuinya– dan barangsiapa yang tidak ada di sana –tidak mengetahuinya– tetapi meridhainya, ia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Dawud no. 4345 dan Shahihul Jami’ no. 7020)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;9. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sabar dan murah hati&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Bergaul dengan sesama tentu membutuhkan kesiapan mental dan kestabilan emosional. Sebab, manusia beragam sifatnya. Sifat sabar dan murah hati adalah bekal yang harus disiapkan seorang muslim. Apalagi Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 134 menjadikan dua sifat ini sebagai ciri ketakwaan. “Bergegaslah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang mendermakan (hartanya) di waktu senang maupun ketika menderita, dan orang-orang yang menahan marahnya serta yang memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah itu suka kepada orang-orang yang (suka) berbuat baik.”&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Bahkan Rasulullah saw. menyebut orang yang mampu menahan marah, bersabar, dan bermurah hati sebagai jagoan. Abu Hurairah merekam sabda Rasulullah saw. ini, “Orang jagoan itu bukanlah ditentukan dengan (jagoan) gulat. Justru orang jagoan itu ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609). Subhanallah! Jika setiap manusia mampu mengamalkan sabda Rasulullah saw. ini tentu sengketa, perselisihan, konflik, perseteruan, perang, dan pertumpahan darah akan menjadi hal yang langka di muka bumi ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;10. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Pemaaf, toleran, dan tawadhu’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Bergaul dengan masyarakat tentu tak selamanya harmonis. Kadang ada geserkan karena sesuatu hal. Dan menyimpan dendam adalah ciri pribadi yang tidak sehat dalam bergaul dengan masyarakat. Allah swt. justru mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang pemaaf. Bahkan, membalas keburukan dengan kebaikan. “Balaslah keburukan dengan cara yang baik.” (Al-Mu’minun: 96)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Sebab, ketika kita memberi maaf, memberi toleransi, dan tawadhu, itu semua tidak membuat kita hina. Justru terlihat mulia di sisi. Abu Hurairah r.a. merekam bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan tiada Allah menambah seseorang karena (mau) memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidak ada seorang hamba pun yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya.” (Muslim no. 2588)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari ‘Iyadh bin Khimar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. telah mewahyukan kepadaku supaya kamu saling bertawadhu’ sehingga tidak ada seorang pun yang bertindak lalim atas yang lain dan tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain.” (Muslim no. 2865)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Bahkan, sifat merendah menjadi ciri ahli surga. Dan sebaliknya, kasar, tidak sabaran, congkak, dan sombong adalah ciri ahli neraka. Diterima dari Haritsah bin Wahab r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Senangkah kalian jika aku beritahukan tentang ahli surga? Ia (ahli surga itu), setiap orang yang lemah dan memandang diri (sendiri) lemah, yang jika bersumpah kepada Allah pasti dikabulkan. Dan, sukakah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka? Ia (ahli neraka itu) adalah setiap orang yang kasar, tidak sabaran, dan congkak lagi sombong.” (Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;11. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sopan, santun, dan ramah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Suatu ketika pernah sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah saw. Mereka berkata, “Al-saam ‘alaika (semoga engkau dikenai racun).” Aisyah mendengar dan mengerti maksud kata-kata itu lantas membalas, “‘Alaikum al-saam wa al-la’nah (semoga racun itu untukmu disertai kutukan).” Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, “Jangan begitu Aisyah. Sesungguhnya Allah menyukai sifat lemah lembut dalam segala urusan.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa yang mereka katakan?” Rasulullah saw. menjawab, “Telah aku jawab, wa ‘alaikum.” (Bukhari no. 6024)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Di hadits yang sama, dalam riwayat Bukhari no. 6030 disebutkan Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, “Hai Aisyah, engkau mesti lemah lembut (tidak kasar), dan jauhilah olehmu sifat kasar/kejam dan keji/kotor.” Sedangkan dalam riwayat Muslim no. 2165, Rasulullah saw. berkata, “Hai Aisyah, janganlah berlaku keji/kotor.” Masih diriwayat Muslim yang lain, Rasulullah saw. berkata, “Jangan begitu, hai Aisyah. Sebab, Allah tidak menyukai perbuatan keji dan mengata-ngatai secara kotor.”&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Begitulah Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, dengan orang yang jelas-jelas punya maksud buruk terhadap diri kita. Sebab, sifat lemah lembut dan santun tidak boleh hilang dari diri kita. Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak ada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak tercabut dari sesuatu barang kecuali menjadi kotor/jeleklah barang itu.” (Muslim no. 2594)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan, dan Dia memberi (kepada seseorang) karena kelembutan(nya) apa yang tidak diberikan-Nya (kepada seseorang) karena kekejaman(nya) dan apa yang tidak diberikan-Nya kepada orang yang mempunyai sifat selain sifat kejam.” (Muslim no. 2593)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Karena itu, Rasulullah saw. tidak ingin seorang muslim menjadi pengutuk. Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah pantas bagi shiddiq, mukmin yang bagus imannya, untuk menjadi pengutuk.” (Muslim 2597)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Mukmin itu bukanlah pencemar nama baik orang, bukan pengutuk, dan bukan pelaku perbuatan keji, serta bukan yang buruk tutur katanya.” (Turmudzi no. 1977 dan Silsilah Shahihah no. 320)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasululllah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang bagus (mulia). Dan sesungguhnya Allah itu membenci orang yang suka melakukan perbuatan keji dan buruk tutur katanya.” (Abu Dawud no. 4799, Turmudzi no. 2002, Silsilah Shahihah no. 876, dan Shahihul Jami no. 5597)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Karena itu, Rasulullah saw. melarang seorang muslim mencela muslim yang lain. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Mencela muslim itu perbuatan durhaka (fusuuq) dan membunuh muslim adalah suatu kekufuran.” (Bukhari no. 48 dan 6044, Muslim no. 64 dan 116)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;12. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Bertutur kata yang baik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari diri kita yang paling harus dijaga dalam bergaul dengan masyarakat adalah lidah kita. Tidak sedikit orang celaka karena tidak mampu mengontrol perkataannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Mu’adz bin Jabal r.a. diajarkan langsung tentang hal itu oleh Rasulullah saw. “Senangkah kamu jika aku beritahukan apa yang menguasai (mencukupi) itu semua?” Mu’adz menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bersabda, “Tahanlah olehmu ini!” Rasulullah saw. menunjuk lidahnya. Mu’adz berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah kita akan dituntut dengan apa yang kita ucapkan?” Rasulullah saw. menjawab, “Celakalah kamu, wahai Mu’adz, bukankah manusia dapat tersungkur ke dalam neraka hanya karena kata-kata yang keluar dari lidahnya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Karena itu, menjaga lidah bukan hanya selamat diri dari kemarahan orang yang mendengar, tetapi juga selamat dari siksa neraka. Sahal bin Sa’ad Al-Sa’idi r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menjamin (memelihara) untukku apa yang ada di antara kedua kakinya dan apa yang ada di antara kedua janggutnya (lidahnya), aku menjamin baginya (masuk) surga.” (Bukhari no. 6474 dan 6807)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Uqbah bin ‘Amir r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Tahanlah lidahmu, rumahmu meski mencukupimu dan menangislah atas segala kesalahanmu.” (Turmudzi no. 2406 dan Silsilah Shahihah no. 890)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (Bukhari no. 5185 dan Muslim no. 47)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;13. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Berkhitmat kepada kaum muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10). Karena dekatnya hubungan satu muslim dengan muslim yang lain sebagai saudara, jika ada yang sakit maka semua merasa sakit.&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya.” (Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Dari Nu’man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur dan merasa demam.” (Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Karena itu, tak heran jika Rasulullah saw. mengancam seorang muslim yang tidak peduli dengan saudara muslimnya. Dari Hudzaifah Bin Yaman r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR At-Tabrani)&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Anas bin Malik pernah menemani Jarir bin Abdullah Al-Bajali dalam sebuah perjalanan. Jarir berkhitmat kepada Anas, padahal usianya lebih tua daripada Anas. Ini membuat anak tak enak. “Jangan engkau lakukan itu,” Jarir menjawab, “Aku telah melihat orang-orang Anshar memuliakan Rasulullah saw. dan mereka melakukan sesuatu kepadanya, aku bertekad untuk tidak bertemu dengan salah seorang di antara mereka (kaum Anshar) kecuali aku memuliakannya dan berkhidmat kepadanya karena keutamaan/kemuliaan seperti itu.” (Bukhari no. 2888 dan Muslim no. 2513)&lt;/p&gt; &lt;p dir="ltr"&gt;Sungguh mulia Jarir dan sungguh mulia kita jika bisa saling berkhitmat dengan sesama.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;14. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Suka menolong&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Allah swt. berfirman, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan; dan janganlah kamu saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (Al-Ma’idah: 2)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tolonglah saudaramu, baik ia sebagai penganiaya maupun sebagai yang teraniaya.” Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku dapat menolongnya jika teraniaya. Lalu, bagaimana caranya menolong yang menganiaya?” Rasulullah saw. menjawab, “Engkau harus menghalanginya dari perbuatan zalimnya. Itulah cara meolongnya.” (Bukhari no. 2443)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membela harga diri (martabat) saudaranya, maka Allah akan menolak dari wajahnya api neraka pada hari kiamat.” (Turmudzi no. 1931 dan Ahmad no. 449)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;15. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Memiliki sifat sayang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Jarir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi orang lain.” Dalam riwayat lain, “Barangsiapa yang tidak sayang kepada manuasi, maka ia tidak disayangi Allah.” (Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2319)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Para penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di muka bumi, kamu pasti disayangi yang di langit.” (Abu Dawud no. 4941, Turmudzi no. 1924, Silsilah Shahihah no. 925)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Anas bin Malik r.a. dan Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bukanlah dari kelompok kami orang yang tidak sayang kepada yang kecil dan tidak hormat pada yang lebih besar (tua).” (Turmudzi no. 1919)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;16. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Punya rasa malu dan mengendalikan pandangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Malu adalah ciri khas seorang muslim. Karena itu Rasulullah saw. membela seseorang yang punya rasa malu dari celaan orang lain. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. pernah melewati seseorang yang mencela saudaranya karena rasa malunya dengan mengatakan, “Kamu ini terlalu pemalu,” sehingga dikatakan, “Sungguh kamu celaka.” Maka Rasulullah saw. pun bersabda, “Biarkanlah ia, sebab malu itu bagian dari iman.” (Bukhari no. 24 dan Muslim no. 36)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu sebagai satu cabang dari keimanan itu.” (Bukhari no. 9 dan Muslim no. 350)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Sedangkan tentang mengendalikan pandangan, Allah swt. berfirman, “Katakanlah kepada kaum mukminin: hendahnya mereka mengendalikan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada kaum mukminat, hendaknya mereka mengendalikan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 31)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;17. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Tidak suka menjilat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Seorang muslim hendaknya menjauhi kebiasaan menjilat dan memuji secara berlebihan. Sebab, hal itu dilarang oleh Rasulullah saw. Dari Abu Musa Al’Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah saw. penah mendengar seseorang menyanjung seseorang seya memujinya secara berlebihan, lalu beliau bersabda, “Kamu yang memutuskan punggungnya.” (Bukhari no. 2663 dan Muslim no. 3001)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Bahkan kita diajarkan Rasulullah saw. untuk menaburkan tanah ke wajah orang yang berusaha menjilat. Pernah seseorang memuji-muji Usman. Miqdad kemdian maju dan berlutut pada kedua lutut orang itu, lalu menumpahkan kerikil ke wajahnya. Usman berkata, “Apa yang kamu lakukan itu?” Miqdad menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji-muji (menjilat), maka tumpahkanlah tanah pada wajahnnya.” (Muslim no.3002)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;18. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Jangan jadi beban masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;‘Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata, kami sembilan atau delapan atau bertujuh orang pernah berada di sisi Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Mengapakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Sebetulnya kami baru (beberapa hari) saja melakukan bai’at. Beliau bersabda lagi, “Mengapa kalian tidak membai’at Rasulullah?” Kami membentangkan tangan-tangan kami dan berkata, “Kami telah berbai’at kepada engkau, wahai Rasulullah, lalu atas dasar apa lagi kami mesti membai’atmu?” Rasulullah saw. bersabda, “Kamu mesti berbai’at supaya tidak menyembah selain Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melakukan shalat lima waktu, dan untuk mau mendengar dan mentaati.” Lalu beliau bersabda, “Janganlah kamu meminta sedikitpun kepada manusia.” Maka aku betul-betul melihat sebagian di antara mereka -sembilan atau delapan atau tujuh orang yang berbai’at itu-ketika terjatuh cemeti salah seorang di antara mereka, ternyata ia tidak meminta kepada seseorang pun untuk mengembalikan untuknya.” (Muslim no. 1043)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Begitulah ajaran Rasulullah saw. agar kita bersikap &lt;em&gt;ghina ‘anin-naas&lt;/em&gt; (merasa cukup dari manusia) dan hanya meminta kepada Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;19. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Sabar menghadapi kesulitan hidup&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Adalah tabiat hidup di dunia penuh dengan kesulitan hidup: ada kesedihan, ada penyakit, dan ada penderitaan. Kesemuanya itu membutuhkan kesabaran. Sebab, segala kesulitan hidup memang diciptakan Allah swt. untuk mengingatkan akan fananya dunia ini dan menumbuhkan rasa rindu dalam hati seorang mukmin akan kampung akhirat yang kekal dan penuh kenikmatan.&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. dan Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada menimpa kepada mukmin, baik berupa penyakit atau kelelahan, atau berupa penyakit atau kesedihan bahkan kegundahan yang memusingkannya kecuali Allah akan menghapuskan dengan itu segala dosanya.” (Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Dari Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim no. 2999)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;20. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Punya ukuran &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;tentang baik dan buruk&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Begitu banyak peristiwa dan masalah yang timbul akibat interaksi kita dengan masyarakat. Dan bisa jadi semua itu tidak membuat nyaman hati kita. Apalagi bila menyangkut halal-haram, baik-buruk, boleh-tidak boleh, patut-tidak patut. Karena itu, kita harus punya ukuran yang menjadi standar dalam memilah semua peristiwa dan masalah yang ditimbulkan akibat interaksi kita dengan orang lain. Ukuran itu adalah syari’at.&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Nu’man bin Basyir r.a. berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara yang halan dan haram itu ada hal-hal yang musytabihat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Tetapi, barangsiapa yang menjauhi yang musytabihat, ia telah membebaskan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam musytabihat, pasti terjerumus ke dalam yang haram. Hal itu bagaikan penggembala yang menggembala di sekitar kebun dikhawatirkan gembalaannya itu masuk ke dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya bagi setiap raja itu ada kebun larangannya, dan sesungguhnya kebun larangan Allah itu segala yang diharamkan-Nya.” (Bukhari no. 52 dan Muslim 1599)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Nawas bin Sam’an r.a. berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan dan dosa. Rasulullah saw. menjawab, “Al-Birr (kebaikan) itu adalah akhlak yang mulia; sedangkan dosa ialah apa yang berdetik -disertai dengan keraguan-dalam dadamu dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya. (Muslim no. 2553)&lt;/p&gt; &lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;Begitulah 20 rambu bagi kita dalam hidup bermasyarakat. Jika kita amalkan, kita akan menjadi orang yang diharapkan kehadirannya di tengah masyarakat. Ketika kita pergi, orang-orang di sekitar kita menangisi kepergian kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="direction: ltr; unicode-bidi: embed;" dir="ltr"&gt;By Dakwatuna.Com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-7497212557718885410?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/7497212557718885410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=7497212557718885410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7497212557718885410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/7497212557718885410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/05/hidup-secara-syariat.html' title='Hidup Secara Syariat'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-1290431915550276053</id><published>2008-03-22T03:46:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T03:48:54.485-07:00</updated><title type='text'>Siapkan Apa Yang Akan Anda Petik</title><content type='html'>&lt;h4&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" class="postedby"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/index.php/author/nuh" title="Profile of Muhammad Nuh"&gt;Muhammad Nuh&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;     &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;  &lt;hr align="left" color="#999999" noshade="noshade" size="1" width="100%"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri….”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Al-Isra’:7)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Maha Suci Allah Yang telah menurunkan Islam melalui Rasul-Nya yang mulia. Islam menjadi bukan sekadar indah. Tapi, mudah dan penuh berkah. Seperti halnya hujan, siraman Islam mampu menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang pernah dianggap mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Setiap orang akan menuai apa yang ditanam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak semua orang mampu berpikir panjang. Apalagi dengan perhitungan yang teliti. Itulah kenapa tidak sedikit yang melakukan sesuatu cuma buat keuntungan sesaat. “Yang penting saya untung, peduli amat orang lain!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Padahal, alam mengajarkan bahwa aksi sama dengan reaksi. Apa yang diterima alam, itulah yang akan diberikan ke manusia. Ada banjir karena keseimbangan alam terganggu: penebangan hutan, buang sampah ke sungai, dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Begitu pun dalam pergaulan sesama manusia. Kita akan menerima apa yang telah kita berikan. Jika kebaikan yang kita berikan, balasannya pun tak jauh dari kebaikan. Bahkan, mungkin lebih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Para pedagang, baik barang dan jasa, paham sekali rumus ini. Kalau mereka ingin mendapat kebaikan dari konsumen, pancingannya pun dengan sesuatu yang baik. Ada pedagang yang menyediakan air minum kemasan gratis, keramahan para pelayan, bahkan ruangan khusus untuk menunggu. Mereka menganggap: konsumen adalah raja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dalam dakwah pun seperti itu. Dakwah akan diterima mudah jika seluruh kemasannya selalu baik: penyampaian yang santun, isi yang tidak meresahkan, perhatian yang tidak pernah putus, dan tentu saja, bukti kongkrit si penyampai yang selalu baik. Kalau ini yang terus bergulir, para pelaksana dakwah tidak perlu repot-repot mengarahkan ke mana suara umat saat partisipasi mereka dibutuhkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Jika kita tidak ingin keburukan, begitu pun orang lain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Semua orang ingin mendapatkan yang baik. Begitu pun sebaliknya. Tak ada yang ingin dapat yang buruk. Cuma masalahnya, sikap itu tidak diiringi dengan aksi yang positif. Ketika dapat ingin yang baik, tapi saat memberi selalu yang buruk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sebenarnya, ketika seorang melakukan sesuatu yang buruk, saat itu juga ia sedang berharap ada keburukan yang akan ia terima. Disadari atau tidak. Sayangnya, jarang yang mau bercermin diri: apa yang telah saya lakukan. Lebih banyak mana: baik atau buruk. Baru kemudian, kenapa orang lain berbuat buruk pada saya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Al-Qur’an bahkan mengajarkan untuk membalas keburukan dengan cara yang terbaik. Allah swt. berfirman dalam surah Fushilat ayat 34. &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ini memang berat. Ajaran ini lebih tinggi dari sekadar kebaikan berbalas kebaikan, dan keburukan berbalas hal serupa. Lebih dari itu, memberikan reaksi dari sebuah keburukan dengan sudut pandang positif. Dan hasilnya sangat luar biasa. Keburukan bukan hanya hilang, tapi berganti dengan kebaikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. saat penaklukan Mekah. Tak seorang pun yang ditakut-takuti, disiksa, atau hukum mati tanpa sebab. Justru, yang keluar dari mulut Rasulullah saw. adalah pengampunan dan perdamaian. Inilah yang menjadikan Mekah berubah seratus delapan puluh derajat. Drastis! Orang yang dulu memusuhi Islam menjadi pembela Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berpikirlah apa yang bisa diberikan, bukan yang diterima&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Semangat berbuat baik memang tidak akan tumbuh dari mereka yang punya sikap pasif. Ketika yang dipikirkan seseorang cuma bagaimana menerima, darimana datangnya penerimaan; seluruh otot aktivitasnya menjadi mandul. Semangat berbuat baiknya sudah mati sebelum fisiknya benar-benar mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tentunya, sulit mendapatkan sesuatu yang positif dari orang tipe ini. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, mengawali kebaikan pun terasa berat. Semua aktivitasnya terkungkung dalam kalkulator sempit. Hitungannya selalu pada keuntungan materi sesaat. Bukan sesuatu yang lebih mahal dari sekadar materi. Antara lain, ketenangan, keharmonisan, cinta dan persaudaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tokoh Anwar Ibrahim mungkin salah satu contoh baik. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia ini pernah difitnah secara keji. Tidak tanggung-tanggung, ia dituduh pelaku korupsi dan kejahatan homoseksual. Namun, seluruh warga tempat tinggalnya siap menjadi saksi: bahwa Anwar mustahil seperti yang dituduhkan. Itulah buah baik yang selama ini telah ditanam Anwar. Masyarakat sekitarnya, tanpa diminta pun, siap menjadi pembela.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Siapkan awal buat akhir, bukan sebaliknya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin punya visi tersendiri tentang amal kebaikan. Kebaikan bukan sekadar tuntutan pergaulan universal, tapi sebagai bekal di hari kemudian. Itulah investasi atau tabungan yang tidak pernah rugi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Allah swt. berfirman&lt;b&gt;&lt;i&gt;, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Al-Hasyr:18)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Masalahnya, kesadaran itu kadang larut dengan gemerlap dunia materialistis. Kebaikan bergeser dari tabungan buat akhirat menjadi hitung-hitungan untung rugi. Berapa yang telah dikeluarkan, dan berapa yang akan diterima. Inilah akhirnya, orang menjadi miskin bekal. Jika itu yang terjadi, kesudahan selalu berujung pada penyesalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Maha Benar Allah swt. dalam firman-Nya, &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Al-Zalzalah:7-8)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Arial;"&gt;By : www.dakwatuna.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-1290431915550276053?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/1290431915550276053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=1290431915550276053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/1290431915550276053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/1290431915550276053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/03/siapkan-apa-yang-akan-anda-petik.html' title='Siapkan Apa Yang Akan Anda Petik'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-4367438636395099665</id><published>2008-03-15T16:46:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T10:22:02.967-07:00</updated><title type='text'>TRADISI SYAWALAN (KRAPYAK-AN)</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h1  style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; color: rgb(255, 153, 0); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Oleh : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A. Maulana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah berpuasa selama sebulan penuh dan tiba saat dimana semua umat muslim merasa kembali fitri, itulah hari idul fitri yang jatuh pada bulan syawal. Pada bulan ini rasa persatuan dan persaudaraan antara umat muslim sangat kuat, karena dibulan ini pintu maaf antar sesama muslim akan terbuka lebar, segala macam masalah dan permusuhan baik yang sudah terjadi ataupun tersimpan dihati sebisa mungkin akan kita babat habis sehingga yang timbul adalah rasa saling memaafkan dan rasa persaudaraan yang dimasa-masa sebelumnya sempat pudar. Karena Alloh SWT pun telah mengingatkan kita semua tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“&lt;span class="gen"&gt;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Q.S. 3:103).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;" class="WW-BodyText2"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dibulan syawal ini tepatnya satu minggu setelah hari Idul Fitri, disalah satu pinggiran kota Pekalongan tepatnya di kelurahan Krapyak akan punya hajat besar yang diadakan satu tahun sekali yang orang Pekalongan sering menyebutnya tradisi Syawalan (Krapyak-an). Yaitu tradisi dimana semua warga Krapyak akan melakukan open house dan menjamu masyarakan kota Pekalongan dan sekitarnya, tentunya dengan jamuan yang khas pula yaitu LOPIS Raksasa dan beberapa hidangan lainnya, disana akan berkumpul ratusan manusia untuk saling bersilaturahmi baik ke tempat saudara, teman, atau mencari saudara baru, mungkin bagi sebagian remaja adalah ajang untuk mencari pacar. Selain berbagai menu hidangan yang sudah ada tersebut juga akan diadakan berbagai macam hiburan disudut-sudut gang mulai dari komedi putar sampai orkes melayu yang penyanyinya berpakaian seksi-seksi dan yang pasti membangkitkan syahwat bagi sebagian penonton laki-laki, dan disepanjang jalan (Jl. Jlamprang) serta semua gang akan dilalui banyak orang dengan berbagai macam dandanan dan style mereka masing-masing yang cenderung mengikuti trend mode kebarat-baratan (untuk anak perempuan berpakaian yang memperlihatkan pusar dan celana dalam bagian atas) wow..., begitulah kurang lebih gambaran suasana yang terjadi pada acara Krapya-an tersebut. Fenomena tradisi Syawalan (Krapyak-an) tersebut memang ada beberapa kegiatan yang sangat baik untuk mendidik masyarakat saling berbagi, dan meningkatkan hubungan sesama manusia &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“&lt;span class="gen"&gt;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” &lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;(Q.S.5:2)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="line-height: 150%; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span class="gen"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tapi dalam perkembangannya acara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;tradisi Syawalan (Krapyak-an) itupun tidak lepas dari pengaruh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;budaya barat yang negatif sehingga sangat bertentangan dengan akidah masyarakat Islami didaerah itu, yang notabene sebagai pelaku dari tradisi tersebut. Dan sangat mencemari semangat hari raya Idul Fitri yang mengajak kita untuk kembali suci setelah berpuasa sebulan penuh dibulan ramadhan. Mata kita yang pada saat bulan ramadhan diproteksi dari pandangan-pandangan negatif dan hanya untuk melihat hal-hal yang diridloi Alloh, menjadi liar kembali pada saat melihat kemolekan dan keseksian tubuh dari penyanyi-penyanyi dengan pakaian minim yang mengisi acara orkes melayu didalam tradisi syawalan tersebut, hilang sudah semua ilmu tentang moral dan akidah Islam yang digembor-gemborkan pada saat kuliah subuh atau pengajian-pengajian yang pada saat bulan ramadhan begitu ramai. Dan rasa takut kepada Alloh SWT dengan mudahnya terkikis oleh kondisi tersebut, pergaulan antara remaja putra dan putri sudah tidak ada batasannya, mereka tidak punya rasa malu saling bergandengan tangan bahkan berangkulan dimuka umum padahal status mereka bukan suami-istri, rasa malu pada orang-orang yang lebih tua sudah hilang apalagi terhadap Alloh SWT &lt;i style=""&gt;naudzubilla mindalik.&lt;/i&gt; Pada bulan ramadhan Masjid-masjid penuh sesak dengan jamaahnya pada saat panggilan sholat berkumandang, tapi pada saat acara Krapyak-an tersebut masjid-masjid menjadi sepi kembali, para pengunjung acara tersebut sepertinya acuh mendengar suara para muadzin yang mengumandangkan Adzan, sebagian mereka asyik dengan kesenangannya masing-masing. Sebenarnya masih banyak perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan akidah Islam yang terjadi di dalam tradisi tersebut, sebernarnya tradisi Krapyak-an tujuan awalnya sangat mulia yaitu untuk mempersatukan umat serta menegakkan syariat, tetapi seiring dengan era globalisasi ini dimana budaya-budaya yahudi mendominasi di kehidupan masyarakat ini akankah nilai-nilai Islam lenyap? Bukankah Alloh SWT sudah mengingatkan kita dengan firmanNya dalam Alqur’an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“&lt;em&gt;Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka. Namun, Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci&lt;/em&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;(Q.S.61:8)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;Dari Firman Alloh SWT tersebut &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;apakah kita semua dan para pemimpin didaerah tersebut baik itu eksekutif, legislatif maupun kyai-kyai atau ustadz-ustadz akan membiarkan tradisi yang bernuansa Islam dan sangat positif bagi kehidupan berbangsa itu akan terkotori oleh setan-setan yang berbentuk manusia yang sudah lupa dengan Alloh SWT dan lebih mengumbar nafsunya dengan cover tradisi suci. Mungkin hanya masyarakat setempat yang bisa mengubah tradisi tersebut agar benar-benar menjadi kegiatan yang bernuansa Islam, mungkin akan sangat indah apabila pada saat acara tersebut disetiap pojok-pojok gang yang selama ini hanya mempertontonkan kemaksiatan oleh orkes melayunya diganti dengan pengajian-pengajian yang mengkaji kitab-kitab (Al-Quran dan Hadist) atau membahas masalah akidah Islam, tentunya dengan tetap mempertahankan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif dan tidak keluar dari rambu-rambu syariat Islam. Sudah saatnya kita semua berbenah untuk menjalankan syariat secara total setelah selama ini kita lalai dengan aktivitas kita mengejar kesenangan semu yaitu kesenangan dunia sampai-sampai melupakan kewajiban kita sebagai manusia yaitu untuk selalu Ihsan kepada Alloh SWT, jangan sampai Alloh SWT marah dan menimpakan azab kepada kita.&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)” (&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://q.s.6/"&gt;Q.S.6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;:65). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;Dan dari Firman Alloh SWT tersebut harusnya kita semua sadar bahwa kita hidup di negara yang sangat rawan terhadap bencana alam, seperti akhir-akhir ini gempa bumi sangat akrab dengan kita. Jangan sampai dengan kelalaian kita selama ini akan mengakibatkan azab Alloh SWT menimpa kita, karena kemurkaan Alloh SWT yang mendatangkan azab adalah hasil dari perbuatan manusi sendiri “&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka” (Q.S.7:78).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;" class="TableContents"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mungkin akan sangat indah apabila Idul Fitri tahun ini menjadi momentum untuk perubahan yang lebih baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agar kelurahan Krapyak bisa menjadi pioner berdirinya kampung-kampung muslim di kota Pekalongan yang bisa menyebarkan semangat &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“Rahmatan lil 'Alamin”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sehingga kelurahan Krapyak menjadi kampung yang dihormati dan disegani karena perilaku masyarakatnya yang Islami dan budayanya yang sesuai dengan Syariat Islam. Marilah kita bersama-sama berhijrah ke jalan Alloh SWT karena “&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;hijrah yang sesungguhnya adalah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;ketika manusia mampu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;meninggalkan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; s&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;egala bentuk perbuatan buruk”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;(Al Hadist)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Perbuatan buruk yang dimaksuk dalam hadis tersebut ialah kemaksiatan yang berkaitan dengan masalah moral dan hukum. Dan bagi para pemimpin di kota Pekalongan baik itu di pemerintahan maupun para Kyai atau ustadz, sudah saatnya bapak-bapak atau ibu-ibu yang terhormat berani menunjukkan nyalinya untuk memulai perubahaan, jangan takut kehilangan masa atau jamaahnya, karena kecintaan terhadap Alloh SWT adalah yang paling utama jika dibandingkan dengan kecintaan manusia terhadap dunia, kecintaan pemimpin terhadap rakyatnya dan ulama terhadap jamaahnya bisa menjadi tidak bermakna apabila mengakibatkan mereka mengingkari Alloh SWT dan tidak peduli lagi terhadap ketetapan Alqur'an dan Sunah yang menjadi dasar bagi kehidupan manusia didunia, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wallahu alam bishshowab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-4367438636395099665?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/4367438636395099665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=4367438636395099665' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/4367438636395099665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/4367438636395099665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/03/tradisi-syawalan-krapyak.html' title='TRADISI SYAWALAN (KRAPYAK-AN)'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-364732529866941223</id><published>2008-03-15T06:10:00.000-07:00</published><updated>2008-03-15T06:12:39.746-07:00</updated><title type='text'>KENAPA HARUS BER-TAUHID</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;Tauhid Dalam Penghambaan Dan Tujuan [Tauhid Uluhiyah]&lt;/h3&gt;    &lt;div style="font-family: arial;" class="post-detail"&gt;     &lt;p&gt;[1]. Allah Ta'ala Maha Esa. Tidak ada seorang pun yang menjadi sekutu bagi-Nya, baik dalam ciptaan dan kekuasaanNya, dalam penghambaan dan pengabdian kepadaNya, serta dalam asma dan sifatNya. Dia-lah Rabb Semesta Alam. Hanya Dia sendiri yang berhak dengan segala macam ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Mempersembahkan ibadah, seperti berdoa, meminta perlindungan, memohon pertolongan, bernazar, menyembelih kurban, tawakal, takut, berharap dan mencintai selain kepada Allah Ta'ala adalah perbuatan syirik, meskipun perbuatan itu dilakukan kepada malaikat, seorang nabi utusan, atau kepada hambaNya yang shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Salah satu sendi utama ibadah ialah beribadah kepada Allah dengan penuh rasa cinta, rasa takut dan penuh harap dengan menyeluruh. Beribadah kepada Allah dengan sebagian daripadanya tanpa yang lain, juga kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang ulama mengatakan: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah hnya dengan rasa cinta maka dia seorang zindiq (orang yang sesat dalam agama dan menyimpang dari jalan kebenaran). Barangsiapa yagn beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut maka dia adalah seorang haruri [1] , dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan penuh harapan maka dia adalah seorang murji' [2]."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Patuh, tunduk dan taat secara mutlak kepada Allah dan rasulNya, Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Iman kepada Allah sebagai Hakim termasuk iman kepada-Nya sebagai Rabb dan Sesembahan. Tidak ada sekutu bagiNya dalam hukum dan perintahNya. Penerapan hukum yang tidak diijinkan Allah, berhukum kepada thaghut [3], mengikuti selain syariat Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam dan merubah sesuatu darinya adalah kufur. Siapa yang mengatakan, seseorang boleh keluar dari syariatnya maka dia kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Menggunakan hukum yang bukan dari Allah adalah kufur akbar, yang bisa ; menyebabkan seseorang keluar dari Islam; dan bisa juga termasuk kufur duna kufrin yakni kufur yang tidak menyebabkan keluar dari Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kufur akbar terjadi bila patuh dan tunduk kepada hukum selain hukum Allah, atau menginjinkan penggunaan hukum tersebut. Sedangkan kufur duna kufrin, bila tidak menggunakan hukum Allah dalam suatu kejadian tertentu karena menuruti hawa nafsu, tetapi secara umum ia masih tetap patuh kepada hukum Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Pembagian agama pada hakikat yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu dan syariat yang hanya wajib diikuti orang-orang awam saja serta melakukan pemisahan urusan politik atau urusan lainnya dari agama adalah tindakan batil (tidak benar). Apapun yang bertentangan dengan syari;at, baik hakikat, politik maupun perkara lainnya maka hukumnya bisa kufur dan bisa pula sesat, sesuai dengan tingkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Tidak ada seroang pun yang dapat mengetahui sesuatu yang ghaib selain Allah Ta'ala semata. Mempercayai ada seseorang selain Allah yang dapat mengetahui hal-hal ghaib adalah perbuatan kufur, sekalipun dia mengimani bahwa Allah yang memberitahukan sebagian dari perkara ghaib kepada sebagian rasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Percaya kepada ahli nujum dan para dukun adalah kufur, sedangkan mendatangi dan pergi ke tempat mereka adalah dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. Wasilah yang diperintahkan di dalam Al Qur'an ialah apa yang mendekatkan seseorang kepada Allah Ta'ala, yaitu berupa amal ketaatan yang disyariatkan. Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tertentu ) ada tiga macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a] Masyru' yaitu tawassul kepada Allah Ta'ala dengan asma dan sifat-Nya, dengan amal shaleh yang dikerjakannya, atau melalui doa orang shaleh yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b] Bid'ah yaitu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan cara yang tidak disebutkan dalam syari'at, seperti tawassul dengan pribadi para nabi dan orang-orang shaleh, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c] Syirik bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdo'a kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. Berkah berasal dari Allah Ta'ala. Namun Allah mengkhususkan sebagian berkahNya kepada seorang hamba atau sesuatu makhluk yang dikehendakiNya. Oleh karena itu, seseorang atau sesuatu makhluk tidak boleh dinyatakan mempunyai berkah kecuali berdasarkan dengan dalil. Berkah artinya kebaikan yang banyak atau kebaikan yang tetap dan tidak hilang. Waktu-waktu yang mengandung keberkahan seperti malam lailatul Qadar. Adapun tempat yang ada berkahnya seperti masjid Al Haram, mesjid Nabawi dan masjid Al Aqsha. Benda yang ada berkahnya seperti air zamzam. Amal yang ada berkahnya adalah setiap amal shaleh yang diberkahi, dan pribadi yang ada berkahnya adalah seperti para nabi. Kita tidak boleh meminta berkah kepada manusia dan peninggalan mereka, kecuali kepada pribadi dan peninggalan nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam karena dalil yang ada hanya menyatakan demikian. Namun hal ini tidak berlaku lagi setelah wafatnya dan hilangnya barang peninggalan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]. Tabarruk (meminta berkah) termasuk perkara yang berdasarkan nash. Untuk itu tidak boleh tabarruk kepada sesuatu kecuali pada hal yang telah dinyatakan oleh dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]. Mengenai pervbuatan yang dilakukan orang di kuburan dan ketika ziarah kubur ada tiga macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Masyru', yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk mengingat akhirat, untuk memberikan salam kepada ahli kubur dan mendoakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Bid'ah, tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid. Ini merupakan salah satu sarana berbuat syirik, misalnya ziarah ke kuburan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, atau bertujuan untuk mendapat berkah, menghadiakan pahala kepada ahli kubur, membuat bangunan di atas kuburan, mengecatnya dan memberinya lampu penerang. Juga termasuk perbuatan bid'ah bila menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan sengaja bepergian jauh untuk mengunjunginya. Masih banyak perbuatan lain yang dinyatakan telah terlarang dan tidak mempunyai dasar hukum dalam syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Syirik bertentangan dengan tauhid, misalnya mempersembahkan salah satu macam ibadah kepada ahli kubur, sperti berdoa kepadanya sebagaimana layaknya kepada Allah meminta bantuan dan pertolongannya, bertawaf di sekelilingnya, menyembelih kurban dan bernazar untuknya, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]. Sesuatu yang menjadi wasa'il (sarana) dihukumi berdasarkan tujuan dan sasaran. Setiap sesuatu yang menjadi sarana menuju syirik dalam ibadah kepada Allah atau menjadi sarana menuju ibadah kepada Allah atau menjadi sarana menuju bidok'ah maka wajib dihentikan dan dilarang. Setiap perkara baru (yang tidak ada dasarnya) dalam agama adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama'ah fi Al 'Aqidah edisi Indonesia PRINSIP-PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al 'Aql, Penerbit GIP Jakarta]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Haruri adalah seorang pengikut haruriyah, salah satu sekte dalam aliran khawarij yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir dan di akhirat kekal di dalam neraka.&lt;br /&gt;[2]. Murji' adalah seorang pengikut murji'ah, yaitu kelompok yang berpendapat bahwa amal tidak termasuk dalam kriteria iman dan iman tidak bertambah juga tidak berkurang. Mereka mengatakan, suatu dosa tidak berbahaya selama ada iman, sebagaimana suatu ketaatan tidak berguna selama ada kekafiran.&lt;br /&gt;[3]. Thaghut adalah segala yang diperlakukan secara melampaui batas yang telah ditentukan Allah, misalnya dengan disembah, ditaati dan dipatuhi. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-364732529866941223?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/364732529866941223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=364732529866941223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/364732529866941223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/364732529866941223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/03/kenapa-harus-ber-tauhid.html' title='KENAPA HARUS BER-TAUHID'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5804822644705088697.post-4313457924608332040</id><published>2008-02-05T22:18:00.000-08:00</published><updated>2008-03-15T06:17:48.917-07:00</updated><title type='text'>Riba dalam Transaksi Bisnis</title><content type='html'>&lt;table style="width: 500px; height: 13px;" class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;            &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=266" target="_blank" onclick="window.open('http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=266','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="PDF"&gt;      &lt;img src="http://www.sebi.ac.id/templates/rhuk_solarflare_ii/images/pdf_button.png" alt="PDF" name="PDF" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=266&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=33" target="_blank" onclick="window.open('http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=266&amp;pop=1&amp;page=0&amp;Itemid=33','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" title="Cetak"&gt;       &lt;img src="http://www.sebi.ac.id/templates/rhuk_solarflare_ii/images/printButton.png" alt="Cetak" name="Cetak" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=266&amp;amp;itemid=33" target="_blank" onclick="window.open('http://www.sebi.ac.id/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=266&amp;itemid=33','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no'); return false;" title="E-mail"&gt;      &lt;img src="http://www.sebi.ac.id/templates/rhuk_solarflare_ii/images/emailButton.png" alt="E-mail" name="E-mail" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;    &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;             &lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" align="left" valign="top" width="70%"&gt;      &lt;span class="small"  style="font-size:100%;"&gt;        Ditulis oleh Abdul Aziz Setiawan     &lt;/span&gt;             &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;       &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;       &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Islam telah tegas mengharamkan bunga atas pinjaman dan menghalalkan per­da­ga­ng­an. Secara tegas hal ini tertuang dalam &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Al-Qur'an surah Al-Baqarah (2) ayat 275, yang menyatakan bah­wa “&lt;em&gt;Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (bu­nga)&lt;/em&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Meski demikian Is­lam tidak menghalalkan segalanya dalam perdagangan. Islam memberikan panduan aturan yang juga jelas dalam jual beli, perdagangan atau bisnis. Hal ini ka­rena, Islam ingin menghilangkan bukan saja ketidakadilan yang melekat dalam pranata bunga atas pinjaman (utang-piutang), tetapi juga yang terdapat dalam semua bentuk pertukaran (jual beli) yang tidak jujur dan tidak adil di dalam transaksi bisnis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Segala sesuatu ’tambahan’ (keuntungan) yang diterima dengan tanpa dapat dibenarkan oleh salah satu pihak dalam suatu transaksi perdagangan disebut &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; Keuntungan yang dibenarkan dijelaskan Ibnu al ‘Arabi dalam &lt;em&gt;Ahkam Al-Qur’an&lt;/em&gt; sebagai “semua kelebihan atas apa yang dapat dibenarkan oleh nilai yang setara (&lt;em&gt;iwadh&lt;/em&gt;&lt;span&gt;)&lt;/span&gt;”. Apabila tambahan tersebut melebihi nilai yang setara (&lt;em&gt;iwadh&lt;/em&gt;) dapat masuk dalam kategori &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; yang tidak dibenarkan secara Syari’ah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Transaksi Eksploitatif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pengharaman &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; dimaksudkan untuk memastikan keadilan, untuk meng­hi­langkan semua bentuk eksploitasi melalui pertukaran atau jual beli yang tidak adil, dan me­nu­tup semua pintu bagi riba. Karena menurut kaidah fiqih Islam yang di­te­rima secara luas, bahwa segala sesuatu yang berfungsi sebagai sarana atas sesuatu yang &lt;span&gt;haram&lt;/span&gt; juga menjadi &lt;span&gt;haram&lt;/span&gt; karenanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Karena potensi eksploitasi atau pembebanan tambahan yang berlebihan dengan berbagai cara tersebut, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang Muslim bisa terlibat di dalam riba dalam berbagai cara (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi). Inilah sebabnya mengapa Rasulullah SAW berkata: ”Tinggalkan yang menimbulkan keraguan di dalam pikiranmu menuju apa yang tidak menimbulkan keraguan di dalamnya”, dimana hadits tersebut dikutip oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengenai surah Al-Baqarah ayat 275. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Berkaitan dengan hal tersebut Khalifah Umar bin Khattab juga mengatakan: ”Bukan saja jauhkan &lt;em&gt;riba&lt;/em&gt;, tetapi juga jauhi &lt;em&gt;ribah&lt;/em&gt;” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ad-Darimi). &lt;em&gt;Ribah&lt;/em&gt; dari kata &lt;em&gt;rayb&lt;/em&gt; yang secara harfiah berarti ‘ragu’ atau ‘curiga’ dan merujuk pada pendapatan yang me­nyerupai riba atau yang menimbulkan keraguan perihal keabsa­hannya. Hal ini mencakup semua pendapatan yang berasal dari ketidakadilan, ataupun eksploitasi atas orang lain. Ke­ti­dakadilan yang diakibatkan melalui riba dapat juga dilakukan melalui transaksi komoditas dan mata uang. Termasuk penentuan keuntungan atas transaksi perdagangan yang semena-mena. Dengan demikan, maka &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; merujuk pada semua ketidakadilan atau eksploitasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Untuk menghindari itu semua, transaksi yang Islami menuntut adanya pe­nge­tahuan yang memadai mengenai harga pasar sekarang dan kualitas barang yang di­beli atau dijual baik oleh pihak pembeli dan penjual. Ini mengharuskan peng­ha­pu­s­an penipuan dalam harga maupun kualitas, dan dalam ukuran atau berat. Semua praktek bisnis yang meng­arah kepada eksploitasi pembeli atau penjual dalam konsepsi Islam harus dihapuskan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Hal inilah yang menjadi dasar mengapa beberapa jenis transaksi (jual-beli) telah dilarang Syari’ah dengan tujuan menjaga hak pembeli dan penjual. Seperti: &lt;em&gt;najash&lt;/em&gt; (penipuan dan kolusi), &lt;em&gt;ghabn al-mustarsil&lt;/em&gt; (menipu orang yang masuk pasar dan tidak mempunyai informasi), &lt;em&gt;bay’ al-hadir li al-badi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;talaqqi al-rukban&lt;/em&gt; (kolusi monopsoni dan monopoli atau eksploitasi kepada pembeli melalui rekayasa pasar untuk menurunkan atau menaikkan harga diluar keseimbangan pasar), &lt;em&gt;gharar, muhaqalah, munabadhah, mulamasah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;muzabanah&lt;/em&gt; (penjualan spekulatif atau gambling).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Menutup Jalan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rasulullah SAW. menunjukkan paling tidak terdapat empat cara yang dapat menjerumuskan pihak yang bertransaksi bisnis kedalam &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; adalah eksploitasi yang mungkin terjadi pada perdagangan melalui penggunaan cara yang tidak jujur atau penipuan. Beliau menyamakan dengan riba atas prilaku penjual yang menipu orang yang masuk pasar dan tidak mempunyai informasi yang cukup (&lt;em&gt;ghabn al mustarsil&lt;/em&gt;) (HR. Baihaqi) dan memanipulasi harga dalam penjualan dengan bantuan seorang agen (&lt;em&gt;al-najash&lt;/em&gt;) (HR. Bukhari dan Baihaqi). Secara analogis bisa disimpulkan bahwa tambahan uang atau keuntungan yang diperoleh melalui eksploitasi dan penipuan tersebut termasuk dalam wilayah &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, dengan me­ne­ri­ma imbalan sebagai jasa atas rekomendasi yang menguntungkan sese­orang secara tidak benar. Hal ini me­nunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan yang tampaknya merupakan tindakan amal dengan niat mendapatkan uang secara tersembunyi juga diharamkan. Alasan di­­­balik hal ini karena rekomendasi yang tersebut kemungkinan memberikan manfaat kepada orang yang tidak layak atu tidak berhak, dan dengan de­mi­kian secara tidak langsung menghalangi orang lain yang lebih berhak (HR. Ahmad dan Abu Dawud).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, terlibat dalam &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; melalui transaksi barter. Hal ini terjadi karena ke­su­litan mengukur ’nilai yang setara (&lt;em&gt;iwadh/counter-value&lt;/em&gt;&lt;span&gt;)&lt;em&gt;’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; secara akurat di dalam transaksi tersebut. Oleh ka­re­na itu, Rasulullah SAW melarang barter dalam perekonomian yang telah mengenal uang dan mengharuskan komoditi yang akan dipertukarkan atas dasar barter dijual secara tunai terlebih dahulu dan hasilnya digunakan untuk membeli barang yang diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, pertukaran jenis komoditas yang sama. Sejumlah hadits yang &lt;em&gt;shahih &lt;/em&gt;me­nyatakan bahwa apabi­la jenis komoditi yang sama dipertukarkan satu sama lain maka harus dipertukarkan dengan kuantitas dan bobot yang sama dari komoditas tersebut (&lt;em&gt;equal for equal and like for like&lt;/em&gt;), dan dari tangan ke tangan (&lt;em&gt;hand to hand&lt;/em&gt;). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Apabila komoditi yang dipertukarkan berbeda, tidak menjadi masalah apabila terdapat perbedaaan pada berat dan kuantitas, asalkan pertukaran tersebut terjadi dari tangan ke tangan&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Salah satu dampak dari persyaratan ini adalah menghilangkan jalan belakang kepada riba atau dalam fiqih disebut sebagai &lt;em&gt;saddudz dzari’ah&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam praktek transaksi dan bisnis kontemporer&lt;em&gt; riba al-fadl&lt;/em&gt; bisa tersebar luas dan tidak mudah untuk dijelaskan. Hal ini sebagaimana dinyatakan Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab, yang mengatakan: “Rasulullah SAW mengatakan tanpa menjelaskannya secara rinci kepada kami” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Darimi). Rasulullah SAW hanya menjelaskan beberapa cara yang dapat melibatkan seseorang dalam &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; dan tidak menunjukkan semuanya. Bentuk-bentuk ketidak­­adilan dan eksploitasi dalam perdagangan dan pertukaran mata uang terus berkembang dan ber­ubah dalam setiap abad dan tidak mungkin untuk diproyeksi dan dijelaskan semuanya. Oleh karenanya Al-Qur'an dan As-Sunnah memberikan prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi umat untuk memahami dan menjalankannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Potensi luasnya praktik &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; merupakan tantangan besar bagi seluruh kaum muslimin untuk mencermati praktek-praktek ekonomi mereka secara terus menerus agar senantias berdasarkan ajaran Islam dan berusaha keras untuk menghilangkan semua bentuk ketidakadilan. Tugas ini tentunya jauh lebih sulit daripada menghilangkan &lt;em&gt;riba al-nasi’ah &lt;/em&gt;&lt;span&gt;(bunga bank)&lt;/span&gt;. Dan memerlukan komitmen total dan restrukturisasi keseluruhan praktik bisnis dan perekonomian masyarakat muslim agar sesuai kerangka nilai Islam. Konsep &lt;em&gt;riba al-fadl&lt;/em&gt; yang diperkenalkan oleh Islam mencerminkan prinsip Islam yang teguh terhadap upaya perwujudan keadilan sosial-ekonomi. Hal ini telah menjadi kontribusi unik dari Islam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Wallahu a'lam bis-shawab&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 6pt;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:navy;"  &gt;Oleh A. Aziz Setiawan. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Arial;color:navy;"  &gt;Peneliti pada Pusat Penelitian STEI SEBI, International Institute of Islamic Finance (IIIF), The Indonesia Economic Intelligence (IEI), dan Indonesian Development of Institution and Economic (INDIE) Institute&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5804822644705088697-4313457924608332040?l=agmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agmaulana.blogspot.com/feeds/4313457924608332040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5804822644705088697&amp;postID=4313457924608332040' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/4313457924608332040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5804822644705088697/posts/default/4313457924608332040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agmaulana.blogspot.com/2008/02/riba-dalam-transaksi-bisnis.html' title='Riba dalam Transaksi Bisnis'/><author><name>clumprit</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
